Fidelio Desember 20, 2009
Posted by ditogendut in Uncategorized.add a comment
Huah, sudah lama tidak menulis post di blog sepertinya jari-jari gue udah mulai karatan nih. Hahaha… horror banget ya, jari kok sampe karatan?
Oh well, jujur aja gue udah ngebet banget pengen bisa ngetik-ngetik sampe puas dari entah kapan. Tapi kayanya waktu penuh melulu. Ini aja sekarang gue bela-belain supaya bisa ngetik lagi.
Sekarang yang jadi masalah, gue udah bisa menyempatkan waktu untuk mengetik, tapi malah nggak tahu mau ngetik apaan.
Haih… ada-ada aja ya?
Oh well, mungkin buat pemanasan gue mendingan nulis tentang sesuatu yang gue sukai aja kali ya? Seharusnya itu bisa mempermudah proses pemanasan kan? (yah, paling nggak teorinya sih gitu. Tentang nanti hasilnya gimana mah belakangan aja dipikirin. Wakaka…)
Jadi, setelah memilih-milih mau menulis tentang apa, gue memutuskan untuk menulis tentang sesuatu yang sejak lama menjadi kesukaan gue tapi rada jarang gue bahas.
OPERA
Yup. Seni drama panggung yang dipadukan dengan seni vokal dimana para pemerannya bernyanyi seolah-olah paru-parunya mau meloncat keluar lewat mulut mereka. Huahahaha… ya ampun, ada apa sih sama gue malam ini, kok dari tadi ilustrasinya yang horror-horror melulu ya? Yang jari berkarat lah sampe paru-paru loncat dari mulut segala. Wew…
Tapi lalu mau membahas tentang opera yang mana ya? Secara lakon opera kan jumlahnya sebejibun amit-amit banyaknya.
Setelah memilih-milih lagi, akhirnya pilihan gue jatuh pada Fidelio. Opera yang dibuat oleh Ludwig van Beethoven.
Kenapa gue pilih yang satu ini? Alasannya sederhana. Ini adalah satu-satunya opera yang dibuat oleh Beethoven. Just as simple as that.
Beethoven menggubah komposisi musik yang jumlahnya mencapai angka yang membuat mahasiswa musik lari tunggang langgang karena sudah keburu takut disuruh menghapal satu per satu sama dosen mereka. Kalau nggak percaya, coba saja buka daftar komposisi musik gubahanĀ Beethoven di Wikipedia.
Bagaimana? Cukup mengesankan kan jumlahnya?
Tapi dari sekian banyak hasil karya Beethoven, dia hanya membuat satu Opera, yaitu Fidelio. Kenapa dia hanya membuat satu opera? Tanya saja sama Beethoven-nya sendiri. Huahaha…
So, mari kita mulai membahas tentang Fidelio ini. Ringkasan Fidelio ini gue terjemahkan dari Wikipedia tanpa ada maksud untuk mengakui bahwa tulisan ini adalah seluruhnya hasil tulisan gue sendiri. Jadi kalau kepingin baca lebih lengkapnya lagi, silahkan buka artikel Wikipedia yang membahas tentang Fidelio.
Daftar peran dalam Fidelio:
1. Florestan -> Seorang tawanan di sebuah penjara
2. Fidelio -> Asisten penjaga penjara dan tokoh utama opera ini
3. Rocco -> Penjaga penjara
4. Marzelline -> Anak perempuan Rocco
5. Jaquino -> Asisten Rocco
6. Don Pizarro -> Kepala penjara
7. Don Fernando -> Seorang menteri
(masih ditambah lagi dengan peran-peran figuran yang terdiri dari tawanan-tawanan lainnya, para prajurit, dan warga kota tempat penjara itu berada)
Catatan kecil: Gue suka sama Opera, tapi kalau gue harus menuliskan jalan cerita sebuah opera sangat sulit buat gue untuk memasukkan konsep bahwa para pemerannya bernyanyi sepanjang cerita. Jadi ada beberapa bagian yang tidak gue bahas karena bagian-bagian itu membahas tentang para pemeran yang bernyanyi tentang perasaan mereka masing-masing. Bayangin, buat gue yang suka sama opera aja konsep itu agak konyol, gimana buat mereka yang nggak suka sama opera ya? Hehehe…
Act 1
Opera ini dibuka dengan adegan Jaquino yang menanyakan kepada Marzelline kapan Marzelline akan bersedia menikahi dirinya, tetapi gadis itu menjawab bahwa ia tidak akan pernah menikahi Jaquino karena Marzelline telah jatuh cinta kepada Fidelio yang juga berkerja sebagai asisten penjaga penjara, sama seperti Jaquino. Mendapat jawaban seperti itu, Jaquino pergi meninggalkan Marzelline yang sibuk dengan pikirannya sendiri yang penuh dengan harapan untuk menjadi istri Fidelio. Tidak lama Jaquino kembali dengan disertai oleh Rocco, ayah Marzelline, dan ternyata mereka berdua sedang bertanya-tanya dimana Fidelio berada. Fidelio lantas muncul sambil membawa rantai-rantai tahanan yang baru saja diperbaiki. Rocco memuji keterampilan Fidelio yang bisa memperbaiki rantai-rantai itu, namun Fidelio menjawab pujian Rocco dengan merendahkan diri. Rocco mengira bahwa jawaban Fidelio yang rendah hati itu menandakan bahwa Fidelio juga punya hati terhadap puterinya.
Rocco kemudian memberitahu Fidelio bahwa begitu kepala penjara, Don Pizarro, pergi ke Seville maka Fidelio dan Marzelline bisa melangsungkan pernikahan mereka. Tetapi Rocco menasehati Fidelio bahwa agar agar bisa menjalani pernikahan yang bahagia, mereka perlu uang. Fidelio menjawab bahwa untuk saat ini ada satu hal yang lebih dia inginkan daripada uang, yaitu ia ingin tahu mengapa Rocco selalu tidak mengijinkan Fidelio membantu setiap Rocco mengurusi penjara bawah tanah, padahal Rocco selalu tampak lebih lelah setiap ia selesai mengurusi penjara bawah tanah. Rocco menjawab bahwa ada sel yang tidak boleh ditunjukkan kepada seorangpun di penjara bawah tanah itu, dan bahwa di sel itu ada tawanan yang sudah mendekam selama 2 tahun karena tawanan itu memiliki musuh-musuh yang berkuasa. Mendengar itu, Marzelline memohon kepada ayahnya agar jangan pernah membawa Fidelio dari pemandangan mengerikan seperti sel itu. Namun Fidelio terus mendesak Rocco, ia mengatakan bahwa ia cukup berani untuk menghadapi nuansa penjara bawah tanah yang mengerikan sampai akhirnya Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline juga akhirnya menarik keberatannya tadi.
Sepeninggal Fidelio, Jaquino, dan Marzelline, Rocco didatangi oleh Don Pizarro, si kepala penjara, dan Rocco memberikan pesan yang berisi peringatan kepada Don Pizarro bahwa besok seorang menteri bernama Don Fernando akan melakukan inspeksi mendadak untuk menginvestigasi berita kalau Don Pizarro adalah seorang kepala penjara yang tiran. Don Pizarro kaget karena ia tidk bisa membiarkan Don Fernando tahu tentang tawanan yang ada di penjara bawah tanah. Tawanan itu bernama Florestan, dan ia adalah seorang tawanan politik yang seharusnya sudah mati 2 tahun yang lalu. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa Florestan harus mati. Don Pizarro menawarkan untuk membayar Rocco kalau Rocco mau membunuh Florestan, namun Rocco menolak untuk melakukannya. Akhirnya Don Pizarro memutuskan bahwa ia sendiri yang akan membunuh Florestan, namun ia memerintahkan agar Rocco menggali liang kubur di dalam sumur mati yang ada di dalam penjara bawah tanah. Kalau Rocco sudah selesai menggalinya, maka ia harus memberi tanda sehingga Don Pizarro akan masuk ke penjara bawah tanah itu untuk membunuh Florestan. Sementara itu, Fidelio melihat kalau Don Pizarro dan Rocco sedang kasak-kusuk merencanakan sesuatu namun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka rencanakan itu.
Sementara itu, Jaquino melanjutkan usahanya untuk melamar Marzelline menjadi isterinya, namun Marzelline berkeras menolaknya. Fidelio, yang kelihatannya punya agendanya sendiri dengan berkerja di penjara itu, meminta kepada Rocco untuk memberi kesempatan kepada para tawanan untuk berjalan-jalan di pekarangan penjara. Marzelline juga akhirnya ikut memohon kepada ayahnya untuk membiarkan para tawanan menikmati udara segar. Didesak seperti itu, Rocco menyetujui permintaan Fidelio dan Marzelline, dan bahkan ia akan berusaha mengalihkan perhatian Don Pizarro selama para tawanan menikmati beberapa menit kebebasan mereka mengirup udara segar. Para tawanan yang tidak sering mendapat kesempatan seperti itu bernyanyi untuk mengekspresikan rasa senang mereka, namun nyanyian mereka segera mereka hentikan karena khawatir akan terdengar oleh Don Pizarro.
Saat Rocco kembali, ia membawa beberapa berita baik untuk Fidelio. Berita pertama adalah Don Pizzaro mengijinkan Fidelio untuk menikah dengan Marzelline, sedangkan berita kedua adalah Don Pizarro mengijinkan Fidelio untuk menyertai dan membantu Rocco untuk mengurus penjara bawah tanah. Sebelum mereka berdua masuk ke penjara bawah tanah, Rocco memberitahu kepada Fidelio bahwa tawanan yang ada di dalam penjara bawah tanah itu sudah diputuskan untuk dibunuh dan dikuburkan secepatnya. Fidelio terkejut dengan berita itu, dan Rocco yang melihat betapa terkejutnya Fidelio menyarankan agar Fidelio untuk tidak ikut kali ini, tetapi Fidelio bersikeras untuk tetap menjalankan tugasnya itu dan ikut masuk ke penjara bawah tanah bersama dengan Rocco. Sebelum mereka berangkat untuk menjalankan tugas mereka, Jaquino dan Marzelline datang dan memberitahu Rocco agar melarikan diri karena Don Pizarro ternyata sudah tahu tentang para tawanan yang diberi kesempatan untuk keluar dari sel mereka, dan Don Pizarro sangat marah karenanya.
Sebelum mereka sempat bergerak, Pizarro sudah keburu datang dan menuntut penjelasan. Rocco beralasan bahwa hari itu adalah hari yang bersejarah (King’s Naming Day, apapun artinya itu, hieh…) dan ia sekedar memberi kesempatan kepada para tawanan untuk merayakan hari itu. Selain itu Rocco juga membujuk Don Pizarro untuk menyimpan kemarahannya untuk dilampiaskan kepada Florestan, si tawanan di penjara bawah tanah. Pizarro akhirnya hanya menyuruh Rocco untuk secepatnya menjalankan tugasnya, yaitu menggali kubur untuk Florestan, sembari menyatakan bahwa para tawanan harus kembali masuk ke sel mereka. Perintah mana yang dijalankan dengan setengah hati oleh Rocco, Fidelio, Jaquino, dan Marzelline.
Act 2
Fokus berpindah kepada Florestan yang berada di sel penjara bawah tanah. Dia menyanyikan aria yang terkenal sangat sulit untuk dinyanyikan dalam opera ini. Aria ini berjudul Gott! Welch Dunkel Hier! In Des Lebens Fruhlingstagen. Aria ini berisikan tentang kepercayaannya kepada Tuhan dan bayangannya tentang isterinya.
Setelah itu Florestan rubuh dan jatuh tertidur. Rocco dan Fidelio datang dan menemukan Florestan yang sedang tidur, kemudian mereka bergegas melaksanakan tugas mereka menggali kubur untuk Florestan.
Saat mereka berdua sedang menggali, tiba-tiba Florestan terbangun dan akhirnya dia sadar bahwa selama ini dia telah menjadi tawanan Don Pizarro (yaolo, kemana aja nih orang 2 tahun terakhir kok bisa sampai nggak tahu ya?) dan bahwa sebentar lagi ia akan dibunuh. Florestan memohon kepada Rocco agar Rocco bersedia menyampaikan pesannya yang terkahir kepada isterinya yang bernama Leonore, namun Rocco mengatakan bahwa itu tidak bisa ia lakukan. Kecewa, akhirnya Florestan hanya meminta untuk diberi minum, dan Rocco memerintahkan kepada Fidelio untuk memberikan permintaan Florestan itu. Florestan sangat berterima kasih kepada Fidelio karena telah memberinya minum, dan mendoakan bahwa perbuatan baiknya itu akan dibalas di dunia selanjutnya. Fidelio yang tidak tega melihat Florestan seperti itu, akhirnya meminta kepada Rocco agar diijinkan memberi sepotong roti untuk Florestan, permintaan mana yang dikabulkan oleh Rocco.
Sesuai rencana awal, setelah ia selesai menggali liang kubur untuk Florestan, Rocco memberi tanda kepada Don Pizarro untuk datang. Tidak lama Don Pizarro datang bersiap untuk melaksanakan niatnya membunuh Florestan. Rocco memerintahkan Fidelio untuk keluar dari penjara bawah tanah. Fidelio berpura-pura menjalankan perintah itu, namun ia tidak keluar melainkan bersembunyi dan tetap berada di dalam penjara bawah tanah itu. Saat Don Pizaar mengeluarkan pisau yang dibawanya untuk membunuh Florestan, Fidelio muncul dari persembunyiannya untuk menghalangi Don Pizarro, dan akhirnya ia membuka indentitasnya yang sebenarnya.
Fidelio hanyalah nama samaran. Ia sebenarnya bernama Leonore, dan ia adalah isteri Florestan yang menyamar menjadi laki-laki bernama Fidelio agar bisa berkerja di penjara itu demi untuk mencaritahu tentang nasib suaminya. Don Pizarro mengangkat pisaunya untuk membunuh Leonore/Fidelio, namun Leonore/Fidelio mengeluarkan pistol yang diam-diam dibawanya dan mengancam akan menembak Don Pizarro.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara terompet yang menandakan datangnya sang menteri Don Fernando (sepertinya SiDak-nya dimajukan sehari ya? Huahaha…). Jaquino masuk ke penjara bawah tanah itu disertai oleh para prajurit untuk memberitahu Don Pizarro bahwa sang menteri telah menunggu kehadiran Don Pizarro di gerbang penjara. Rocco memerintahkan kepada para prajurit untuk mengawal Don Pizarro keluar dari penjara bawah tanah itu, sementara Don Pizarro pergi sambil tetap bersumpah akan membalas dendam. Sepeninggal Don Pizarro, Leonore/Fidelio dan Florestan mengekspresikan kebahagiaan mereka (tebak dengan apa? Yup, mereka bernyanyi. Hieh…) karena mereka telah selamat. Namun sekarang justru Rocco yang khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Florestan dan Leonore/Fidelio yang sepertinya tidak memperhatikan kekhawatiran Rocco terus melanjutkan bernyanyi (yuk, teuteup lanjut, mari…)
Diluar penjara bawah tanah, para tawanan yang dibebaskan oleh sang menteri Don Fernando bersama-sama dengan rakyat kota bernyanyi bersama tentang indahnya saat itu. Lagunya adalah Heil Sei Dem Tag! (gue suka sama lagu ini, selain itu di konser kemaren paduan suara gue juga nyanyiin lagu ini. Hehehe…)
Sang menteri Don Fernando menyatakan bahwa tirani Don Pizarro telah selesai. Rocco muncul bersama dengan Florestan dan Leonore/Fidelio, dan ia meminta kepada Don Fernando untuk menolong mereka (nolongin apa lagi ya? Don Fernando udah nolongin mereka dengan menyingkirkan Don Pizarro, emangnya kurang ditolongin seperti apa lagi sih?). Rocco menjelaskan bahwa Leonore telah menyamar menjadi Fidelio untuk menolong Florestan (bayangin betapa kagetnya si Marzelline. Kalau sudah begini, Jaquino nggak kelihatan jelek-jeleak amat kan Marzelline? Atau lo tetep mau keukeuh nikah sama Leonore? Wakaka…). Rocco juga menjelaskan tentang rencana Don Pizarro untuk membunuh Florestan, sehingga sekarang gantian Don Pizarro yang dimasukkan ke dalam penjara. Florestan (yang tanpa melalui proses pengadilan dinyatakan tidak bersalah, apapun tuduhan yang dituduhkan kepada dia, hieh… Beethoven perlu ngobrol dikit tentang proses pengadilan kali ya sama para pengacara) akhirnya dibebaskan dari rantainya oleh Leonore, sementara semua orang benyanyi untuk memuji Leonore, seorang isteri setia yang berhasil menyelamatkan suaminya.
Fiuhh… panjang juga ya? Hehehe… Tapi kalau dipikir-pikir, settingnya sederhana lho. Semuanya cuman berputar-putar di dalam satu penjara itu doang, jadi dekor panggungnya nggak perlu ribet-ribet amat. Selain itu tokoh utamanya juga relatif sedikit kalau untuk ukuran opera (kan cuman Fidelio, Rocco, Don Pizarro, Florestan, Jaquino, n Marzelline, total cuman 6 orang), sisanya sih cuman peran pendukung saja kan? Coba bandingin sama Magic Flute, Habanera, atau Turandot, whew… Fidelio jauh lebih sedikit peran kuncinya.
Tapi, meskipun penokohannya cuman sedikit, dan setting latarnya cuman di satu tempat, tapi ceritanya gelap n beraaat. Udah gitu komposisi musiknya dijamin bikin para penyanyi opera latihan sampe nangis-nangis karena saking susahnya.
Itulah Beethoven, komposer musik klasik paling JUTEK sepanjang sejarah. Hieh… Tapi mungkin karena juteknya itu makanya hasil karya dia justru jadi oke. Huahaha… Intinya, kalau pengen bisa bikin lagu yang keren, kita harus latihan jutek dulu (teori ngaco mode – on)
Setelah ngeliat ini, agak bersyukur juga dia cuman bikin satu opera. Kalau dia bikin opera yang lain lagi, mungkin yang ada jadi lebih gelap lagi ceritanya. Segitu gelapnya sampe mungkin yang nonton operanya begitu selesai nonton langsung terdorong untuk bunuh diri. (hmmm… sedikit banyak jadi membayangkan bagaimana Beethoven akan bereaksi kalau dikerubungin fans-fans yang semuanya adalah cewek-cewek goth dan cowok-cowok emo. Huahaha… Ngacir kali dia ya? Tapi gue yakin, meskipun dia ngacir sampe terkencing-kencing pun, mukanya teuteup kudu harus wajib jutek. Muhahahaha…)
Hidup Beethoven!
Reuni Maret 22, 2009
Posted by ditogendut in Uncategorized.Tags: Bahan Pemikiran, Curhat, diari, family & friends, kuliah, masa lalu, notariat
2 comments

Reuni… Hmm… entah kenapa, gue nggak pernah bisa ngerasa sreg dengan kata itu.
Orang-orang lain sepertinya bersemangat kalau mendengar bahwa mereka diundang ke sebuah reuni, karena mereka jadi merasa masih diingat oleh teman-teman lamanya. Sementara gue… yah, gue juga merasa senang sih diundang ke sebuah reuni. Siapa sih yang nggak senang ketemu dengan teman-teman lama? Tapi sayangnya pada saat yang sama gue juga merasa jengah dengan kata ‘reuni’ tersebut.
Mendengar kata itu justru mengingatkan gue pada kenyataan bahwa teman-teman yang dulu bisa kita temui setiap hari, sekarang hampir tidak pernah kita temui lagi. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk menelepon dan mengobrol saja sudah sangat sulit untuk menyisihkan waktunya.
Sedikit banyak jadi agak menyesal, mengapa dulu waktu kita semua masih bersama, kita tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk saling berbagi. Sekarang, waktu kebersamaan itu sudah lewat. Sekarang semuanya sudah menjalani jalan hidupnya masing-masing. Ada yang berkerja di luar negeri, ada yang sibuk dengan keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, dan bahkan ada yang sudah pergi selamanya.
Dulu segala berita baik dan berita duka dapat kita bagi dengan mudahnya, sekarang seolah-olah tiada kalimat selain “apa kabar?” yang pantas terucap sebagai basa-basi yang sudah pasti dijawab dengan “baik-baik saja”.
Itulah kenapa gue selalu mengernyit setiap mendengar kata ‘reuni’. Mengapa mereka menggunakan kata itu. Dengan memasang label itu, seolah-olah kita semua mengakui bahwa kita semua sudah saling berjauhan. Apakah rasa sedih menjalani perpisahan belum cukup berat sehingga harus diberi label ‘reuni’ untuk membuat perpisahan kita begitu final?
Hhh…
Gue mengangkat tema ini karena tanggal 13 Maret kemarin dan juga hari ini gue menghadiri acara reuni. Tanggal 13 adalah reuni dengan teman-teman notariat angkatan 2006, sedangkan hari ini adalah reuni teman-teman S1 hukum UnTar angkatan 2001.
Satu reuni saja sudah membuat miris, kali ini gue harus menghadapi 2 reuni dalam waktu yang begitu berdekatan.
Reuni notariat ternyata cukup ramai karena dihadiri oleh hampir 1/2 angkatan gue. Selain itu reuni ini juga dihadiri oleh 2 orang dosen kita selama di notariat. Paling tidak dalam reuni ini kita lebih berkonsentrasi dalam kegiatan berbagi informasi tentang dunia notaris, jadi gue nggak terlalu tenggelam dalam suasana reuni karena berkonsentrasi mendengarkan informasi yang diedarkan.
Tetapi reuni S1 FH UnTar hari ini memang benar-benar reuni. Walaupun hanya dihadiri oleh 12 orang karena koordinasi yang tidak cukup baik, paling tidak reuni ini bisa mengingatkan kita yang hadir pada kenyataan bahwa hampir 8 tahun yang lalu kita semua disatukan oleh UnTar, dan selama 4 tahun selanjutnya kita menghabiskan waktu bersama-sama untuk mengejar gelar SH.
Namun reuni FH UnTar ini benar-benar membuat gue sadar bahwa sudah begitu banyak hal berubah dari antara teman-teman gue.
Berbagi tawa dan sekilas berita di antara kami, tapi tidak lama sudah harus berpisah lagi untuk menjalani perbedaan kami masing-masing.
Masa lalu memang selalu indah untuk diingat-ingat, namun rasa sedih ketika harus kembali ke masa kini untuk menyongsong masa depan… rasanya seperti dibangunkan dengan kasar dari mimpi yang sangat indah.
Hahaha… kelihatannya gue sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik. Hanya hal kecil seperti reuni saja bisa membuat gue melankolis seperti ini.
Paling tidak ada satu hal yang membuat gue bisa bertahan. Gue masih punya sahabat-sahabat yang walaupun sudah tidak bertemu dan berkomunikasi, namun saat bersua tidak akan bertukar “apa kabar” kosong dan basa-basi. “Apa kabar” yang terlontar di antara sahabat adalah “apa kabar” yang tulus, menyuarkan bahwa kami memang masih peduli satu sama lain.
Gue berharap itu tidak akan pernah berubah…
(Calon) Istri Kurang ADJHARRR!!! Maret 22, 2009
Posted by ditogendut in Uncategorized.add a comment
PASTO – AKU PASTI KEMBALI (S/DES/08) – artist
Kemarin gue dapet e-mail dari cewek gue. Dia sekarang lagi dinas menemani professor-nya (dia kan asisten professor) ke Edinburgh, Skotlandia. Habis itu rencananya dia dan sang professor bakal muter-muter ke universitas-universitas yang ada di wilayah Skotlandia n Inggris.
Hieh… IRI!!! DAKU IRI!!!
Kan gue yang maniak Scotlandia, kenapa justru dia yang ke sana! HIKS…
Tapi ya sudah lah. Toh dia kesana buat kerjaan. Kalo buat liburan, barulah gue jerit-jerit penuh rasa iri ke dia.
Nah, yang bikin gue bilang dia kurang ajar adalah, di dalam e-mail yang dia kirim ke gue itu dia bilang dia pengen beliin kilt buat gue pake.
Gila aja! Gue pake sarung aja masih pake celana pendek selutut di balik sarung itu, gimana gue disuruh pakai kilt yang terkenal biasa dipakai tanpa daleman apapun (termasuk celana dalam)! Amit-amit, bisa masuk angin gue ntar!
Lagipula tuh benda kan mahal. Sama kaya batik yang bagus di sini meskipun banyak tapi kan tetap mahal.
Pokoknya gue sempet gondok sama dia gara-gara dia ngetawain gue pas dia ngebayangin gue pakai kilt. GAK SOPAAAANNNN!!!
Trus ketidaksopanan dia yang selanjutnya ada pada attachment yang dia taruh di dalam e-mail itu. Attachment itu isinya adalah lagu dengan format MP3, tapi dia tidak menulis judul lagunya. Jadi tuh attachment gue download tanpa gue tahu apa isinya.
Pas gue dengerin, kok gue ngerasa kalo gue kenal lagu itu ya… hmm…
Ternyata itu adalah lagu yang pernah gue denger dari si Landak. Tapi gue emang nggak tahu judulnya, atau bahkan penyanyinya.
Isinya itu lho… menusuk hati gue yang berperan sebagai si pencinta (HOWEEEEEKK…!!!) yang ditinggalkan sang kekasih merantau. (Kayanya kebalik ya? Biasanya kan yang cowok yang merantau, hehehe…)
Hari ini ada acara kumpul2 dengan teman-teman PSUT, yang mana si Landak adalah salah satunya. Jadilah gue tanya apa judul lagu itu ke dia. Ternyata judulnya adalah AKU PASTI KEMBALI, dan yang menyanyikan adalah PASTO.
Well, ternyata tuh lagu udah tua. Yang menggubah adalah Maia waktu tahun 2005/2006. Tapi gue baru memperhatikan lagu ini sekarang (iye… gue emang telat kalo tentang lagu-lagu baru).
Teks lagunya begini:
Aku kan meninggalkan
Tinggalkan kamu
Tuk sementara
Kau dekap aku
Kau bilang jangan pergi
Tapi ku hanya dapat berkata
Reff:
Aku hanya pergi tuk sementara
Bukan tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
Kau peluk aku
Kau ciumi pipiku
Kau bilang janganlah ku pergi
Bujuk rayumu
Buat hatiku sedih
Tapi ku hanya dapat berkata
Back to reff
Pabila nanti
Kau rindukanku didekapmu
Tak perlu kau risaukan
Aku pasti akan kembali
Back to reff
KURANG ADJHARRR!!!!
Dia bilang supaya gue jangan nakal! Emangnya gue nakal ya selama ini? Kan sampai sekarang gue nggak pernah selingkuh! (paling nggak, nggak pernah sama manusia sih, hehehe… kan istri-istri tua gue tercinta juga perlu diperhatikan – baca postingan sebelumnya, wakakaka…)
Pertama dia nyuruh gue pakai kilt, dan sekarang dia bilang supaya gue jangan nakal. Hiks… Wibawa gue sebagai seorang (calon) suami mau ditaruh dimana kalau si (calon) istri udah berani kurang ajar seperti itu. Huweee…
Yah, gue cuman bisa membalas dengan mengirim e-mail yang isinya parodi syair tuh lagu Aku Pasti Kembali, gue rubah menjadi Aku Pasti Menunggu.
Jadinya seperti ini:
Aku kan menunggumu
Menunggu kamu
Tuk selamanya
Ku dekap kamu
Kau minta aku ikut
Tapi ku hanya dapat berkata
Reff:
Aku akan tunggu tuk selamanya
Akan trus menantikanmu selamanya
Aku pasti kan disini untuk dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti menunggu
Ku peluk kamu
Ku ciumi pipimu
Ku bilang janganlah kau pergi
Bujuk rayuku
Buat hatimu sedih
Jadi ku hanya dapat berkata
Back to reff
Pabila nanti
Kau rindukanku mendekapmu
Tak perlu kau risaukan
Aku pasti akan menanti
Back to reff
Nah, silahkan coba saja sendiri dinyanyikan dengan melodi lagu Aku Pasti Kembali. Pas waktu gue bikin sih pas sama melodinya, hehehe…
BALAS DENDAM!!! MWAHAHAHA…
Tapi… gue bilang sama dia, lagu gue ke dia masih tetap It’s Hard To Say Goodbye-nya Celine Dion duet sama Paul Anka. Mudah-mudahan aja dia ngerti…
Hieh… udah hampir 4 tahun gue jadian sama dia. Dari 4 tahun itu, 3 tahun dihabiskan dengan cara SLJJ seperti sekarang ini. Hhh… ternyata gue kuat juga ya, hehehe…

