Oleh: ditogendut | 24 Februari 2012

Kreatifitas Dan Notaris


You Are Cheese Pizza


Traditional and comforting.
You focus on living a quality life.

You’re not easily impressed with novelty.

Yet, you easily impress others.

.

Sebenernya gue agak malas mengakui ini, tapi sepertinya (seperti kebanyakan pekerjaan lainnya) berkerja sebagai seorang notaris memaksa gue untuk menghadapi hal-hal yang tidak pernah diajarkan selama kuliah, baik kuliah untuk ilmu hukum maupun kuliah untuk ilmu notaris.

Sudah 2 tahun sejak gue disumpah jadi notaris, dan jujur saja, hampir semua kasus yang gue hadapai sejauh ini hampir tidak ada yang sesuai dengan teori-teori ataupun contoh-contoh kasus yang diberikan selama kuliah.

Tidak, gue tidak membicarakan soal hal-hal yang ‘menyimpang’. Kalau hal-hal yang menyimpang ternyata tidak sesuai dengan apa yang gue pelajari selama kuliah, yah, itu sih sudah lumrah lah ya. Namanya saja ‘menyimpang’ jadi ya tidak mungkin sesuai dengan teori-teori yang dipelajari selama kuliah.

Gue membicarakan tentang kasus-kasus standar, kasus-kasus yang memang sudah seharusnya dan sewajarnya dihadapi seorang notaris. Selama masih kuliah, para dosen sepertinya sudah berusaha memberi contoh-contoh keadaan dimana seorang notaris harus menghadapi kasus yang walaupun standar (seperti pembuatan akta kuasa lah contohnya), namun memiliki komplikasi-komplikasi sehingga kita harus pintar-pintar bermanuver saat penyusunan draft akta sehingga akta yang diinginkan bisa menyesuaikan dengan keperluan klien yang memiliki komplikas-komplikasi tersebut.

Sayangnya, seaneh-anehnya dan seajaib-ajaibnya contoh-contoh kasus yang disajikan oleh para dosen itu ternyata masih belum cukup ekstrim untuk membuat para mahasiswanya siap menghadapi kasus-kasus aneh yang ada di dunia asli seorang notaris.

Sayang gue tidak boleh cerita banyak tentang kasus yang gue tangani. Melakukan itu artinya gue melanggar kode etik dan undang-undang, ntar gue bisa dicekek dan dimaki-maki oleh Majelis Pengawas. Hiks… Tapi percaya deh, dari sekian kasus yang gue hadapi, hampir semuanya memaksa gue untuk memodifikasi draft-draft akta yang sudah gue punyai. Sukur-sukur kalau modifikasi yang diperlukan tidak terlalu susah, tapi kenyataannya modifikasi yang diperlukan hampir selalu modifikasi yang ribet, ruwet, dan hampir selalu membuat gue bernafsu untuk jejeritan “Harus ya seperti itu!?” sambil nangis-nangis gaya Bollywood (you know, nangis sambil joget-joget di taman dan bergerak muter-muterin tiang)

Keadaan ini membuat gue teringat dengan saat gue kuliah di notariat, di mata kuliah Akta Keluarga dan Perorangan.

Waktu belajar mata kuliah itu, kita akan belajar bagaimana membuat akta wasiat dan akta perjanjian kawin yang standar. Waktu mempelajari akta-akta itu, gue berpikir “Kenapa hanya untuk hal seperti ini saja kok diperlukan begitu banyak variasi?” karena memang kedua jenis akta itu punya variasi yang sangat banyak. Semuanya memang mirip satu sama lain, tapi ada beberapa kata yang berbeda sehingga membuat efek dari akta itu berbeda drastis dari satu dengan yang lainnya.

Contoh gampang adalah akta wasiat. Ada akta wasiat yang saksi aktanya ikut hadir saat akta itu dibacakan, ada yang saksi aktanya tidak ikut hadir saat aktanya dibacakan dan hanya hadir saat akta itu akan ditandatangani, ada yang akta wasiatnya dikarang sendiri oleh orang yang membuat wasiat (sehingga kemungkinan besar kata-katanya tidak sesuai dengan asas bahasa indonesia yang baik dan benar) sehingga si notaris terpaksa hanya bisa menyuplik karangan si pembuat wasiat itu, dan ada akta yang bahkan notarisnya sendiri tidak tahu apa isi wasiatnya karena surat wasiatnya sudah ditulis sendiri oleh orang yang membuat wasiat dan si notaris hanya membuat akta “penitipan surat”.

Akta perjanjian perkawinan (PK) juga begitu. Akta yang paling standar adalah akta PK dimana semua harta suami dan istri tidak bercampur sama sekali sejak awal. Sementara yang agak variatif adalah akta PK dimana harta bawaan tidak bercampur namun harta yang didapat selama perkawinan berlangsung dianggap bercampur. Atau justru sebaliknya, harta bawaan dianggap bercampur tapi harta yang didapat selama perkawinan dianggap milik si suami/istri yang mendapatkan harta itu, dan varian-varian lainnya.

Waktu itu yang membuat gue bertanya-tanya, kenapa kok akta jenis itu sepertinya variannya banyak sekali, sementara akta-akta lainnya kok variannya tidak sebanyak itu, bahkan justru cenderung hanya sedikit.

Ternyata, akta-akta yang variannya sedikit (seperti akta jual beli barang, akta sewa, akta fidusia, dll) itu bukannya hanya memiliki sedikit varian, melainkan justru karena variannya ada sebegitu banyaknya sehingga hampir mustahil untuk menyuguhkan semua varian-varian itu dalam perkuliahan.

Akta wasiat dan PK yang sekilas variannya kelihatan ada banyak, justru sebenarnya memiliki varian yang lebih sedikit karena semua varian yang pernah ada adalah varian-varian yang disuguhkan selama kuliah itu.

Akhirnya sekarang gue jadi agak menyadari sesuatu yang baru. Ilmu notariat itu bukanlah hanyalah sebuah ilmu seperti ilmu hukum pada umumnya, tapi sudah merupakan sebuah seni. Notaris harus bisa kreatif menyesuaikan penggunaan kata-kata yang ada di dalam akta yang dibuat agar benar-benar sesuai dengan orang yang memerlukan akta itu.

Oke lah, gue memang tidak bisa menklaim kalau seni ilmu notaris itu sama seperti seninya para seniman murni yang bebas berekspresi dengan media apapun, dengan tema apapun, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun si seniman itu suka. Tapi, notaris itu punya kesamaan dengan seniman-seniman dari cabang-cabang seni terapan. Seperti seorang pengrajin kayu yang mendapat order membuat lemari, dia memang bagaimanapun juga harus memenuhi order itu dan membuat sebuah benda yang gunanya untuk menyimpan benda-benda lainnya, yaitu kodrat sebuah lemari. Tapi kalau dia memang benar-benar seorang seniman (dan bukan hanya sekedar seorang tukang kayu) dia akan memperhatikan keperluan, kesukaan, selera, dan bahkan nuansa rumah orang yang memesan lemari itu sehingga lemari yang dibuatnya bisa benar-benar sesuai dengan si pemesan.

Oh, mungkin contoh yang lebih tepat adalah penjahit ya? Dia harus tunduk pada standar-standar bentuk sebuah jenis pakaian – seperti jas sebagai contohnya – tapi dia juga harus mengerti seninya menyesuaikan bentuk jas yang dibuatnya dengan bentuk badan orang yang minta dibuatkan jas itu, dengan tujuan bahwa jas tersebut akan tampak bagus saat dipakai oleh si pemesan dan penampilan si pemesan juga akan mendapatkan nilai tambah saat mengenakan jas tersebut.

Notaris juga seperti itu. Kita harus tunduk pada bentuk dan isi standar sebuah jenis akta, tapi pada saat yang sama kita juga harus bisa menambah, mengurangi, mengganti kata-kata dalam akta itu, atau menambahkan satu kalimat dan bahkan satu pasal baru dalam akta itu, sekedar agar akta yang dibuat itu benar-benar bisa menyesuaikan dan memenuhi keperluan si pembuat akta.

Sayangnya, gak ada dosen yang menyempatkan diri untuk memberitahu gue tentang itu!

Hiks hiks hiks…

Bahkan di lingkungan sesama orang yang mempelajari ilmu hukum, notaris sering dianggap cukup memakai standar akta yang sudah ada, memasukkan nama-nama para penghadap yang minta dibuatkan akta, membacakan akta itu di depan para penghadap, menandatangani akta itu, dan presto! akta itu sudah selesai. Dulu pun gue juga beranggapan seperti itu. Tapi begitu gue menjalani pekerjaan ini sendiri, ternyata pekerjaan seorang notaris lebih cenderung seperti pekerjaan seorang Advokat non-Litigasi yang pekerjaannya adalah contract drafting.

Bahkan untuk kasus-kasus tertentu, terkadang seorang notaris harus bisa memulai penyusunan akta dari nol, karena belum ada; atau si notaris tidak bisa menemukan; draft akta yang sesuai dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Hadeuh… kalau yang seperti itu sih benar-benar susah namanya. Benar-benar terasa jadi pujangga yang tertindas. Jadi pujangga karena harus bisa mengarang bebas, tapi tertindas karena harus memastikan bahwa akta karangannya itu masih memenuhi standar ‘nuansa’ sebuah akta, dalam arti tidak boleh menggunakan kata-kata yang bombastis, tidak boleh ada perumpamaan, alegori, metonimia, narasi, hiperbola atau apapun juga jenis ‘kembang-kembang’ sastra yang terkadang tanpa sadar kita gunakan dalam gaya bahasa kita sehari-hari.

Omong-omong, kelihatan sekali ya kalau gue baru saja menghadapi kasus yang memaksa gue untuk mengarang bebas ya? Hahaha… Iya, emang sih gue baru dapat kasus yang mengharuskan gue untuk mengarang sebuah akta dari awal. Jujur saja, gue belum pernah ketemu contoh akta yang diperlukan untuk memenuhi keperluan si penghadap itu, jadilah gue terpaksa mengarang isi akta itu dari awal sampai akhir.

Itu adalah sebuah pengalaman yang amat sangat melelahkan…

Yah, semoga ini bisa jadi peringatan untuk orang-orang yang ingin jadi notaris karena menganggap pekerjaan notaris adalah mudah karena “tinggal menyontek draft akta yang sudah ada”. Gue kasih tahu aja nih sekarang, kalau 1000 orang masing-masing meminta dibuatkan akta kuasa, maka kita akan membuat 1000 akta kuasa yang nuansanya berbeda-beda, dan kita sebagai notaris adalah orang yang bertugas untuk membuat nuansa-nuansa itu sesuai dengan orang yang meminta.

P.S.: Kecuali kalau akta-akta yang dibuat ada hubungannya dengan bank. Bank tidak suka kalau akta yang berhubungan dengan mereka memiliki bunyi yang berbeda-beda, jadi kita pasti membuat akta yang sama persis isinya. Hhh… seandainya semua orang yang membuat akta memiliki keinginan seperti bank, dunia seorang notaris pasti akan jauh lebih mudah… (ngayal mode)

About these ads

Responses

  1. Aku suka gaya menulismu, Mas Dito…
    Tadi malem aku baru baca tulisanmu Mas tentang bagaimana menjadi seorang notaris.
    informatif sekali. Makasih banyak ya…
    semoga lancar kantornya di gresik.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: