Oleh: ditogendut | 19 Agustus 2013

Ujian PPAT

Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Sudah lama banget gue gak bikin entry di blog ini. Well, alasan utamanya karena sambungan internet gue yang amat sangat minimalis jadi bikin gue males on-line, dan alasan kedua adalah gue juga bingung mau bikin entry tentang apa. Hehehe…

Sebenernya ada sih beberapa hal yang pengen gue posting di sini, tapi kadang hal-hal itu sebegitu panjang dan lebar sampai-sampai gue sendiri males buat menyusunnya jadi satu postingan, sementara kalau dipisah-pisah malah gue jadi males buat ngelanjutinnya nanti.

Intinya sih satu: gue orangnya males. Wkwkwk…

Well, mending gue ngebahas hal ‘besar’ yang gue jalani belakangan ini aja kali ya? Sebenernya ini bukan cerita baru juga sih, karena gue ngejalanin ini udah hampir 5 bulan yang lalu. Alasan utama gue nggak mau membahas tentang hal ini adalah karena kemarin-kemarin hasilnya belum jelas. Tapi akhirnya beberapa minggu lalu hasilnya sudah diumumkan, jadi gue sudah lebih berani untuk menceritakan hal ini.

So, tema cerita gue adalah: UJIAN PPAT

Jeng jeng jeng… *musik dramatis*

Akhirnya setelah menanti dan menunggu dalam kegalauan (hallah!) gue bisa juga ikutan tuh ujian PPAT. Terakhir kali ujian ini diadakan pas tahun 2009, dan saat itu usia gue baru 28 tahun. Karena usia yang masih belum 30 tahun itulah makanya gue nggak bisa ikut ujian PPAT waktu itu. Gondok sih, karena udah gemes pengen cepetan ujian (biar gak kepikiran lagi) tapi ternyata belum boleh ikutan.
Karena gak ada pilihan lain, ya akhirnya gue cuman bisa menunggu sambil konsentrasi saja dengan berkerja sebagai Notaris. Hadeuh… jadi notaris tanpa jadi PPAT rasanya beneran pincang, tapi mau bagaimana lagi? Dijalani saja lah. Cuman kadang-kadang gak enak sama calon klien yang dateng ke kantor membawa berkas-berkas tanah untuk dijual-beli, dihibahkan, di-inbreng, atau diapakan saja. Karena gue belum PPAT setiap ada orang dateng begitu mau gak mau ya gue harus merujuk mereka ke teman Notaris lain yang sudah punya PPAT.

Gue bukan masalahin rejeki yang lepas atau gimana (gue penganut “kalo rejeki udah jodoh ya gak bakal kemana-mana” hehehe…) tapi gue kasihan sama calon kliennya. Coba deh taruh diri kita di posisi mereka. Mereka udah pilih-pilih notaris, mikir-mikir kapan bisa mampir ke notaris itu, siap-siapin berkas yang mungkin diperluin, dan bahkan mungkin sudah janjian dengan keluarga atau orang lain yang mau dibawa bareng ke kantor notaris itu. Eh, begitu masuk ke kantor notarisnya, ternyata si notaris belum PPAT jadi gak bisa bantu selain merujuk ke notaris lainnya.

Kesannya baru mulai aja kok udah dapet kekecewaan. Keadaan seperti itu kan malah bisa bikin ilfil, karena sebuah proses kok sudah dimulai dengan sesuatu yang diluar perhitungan.

Oh well…

Tapi nggak apa-apa. Moga-moga sebentar lagi gue nggak usah lagi memberi jawaban “Maaf Pak/Bu, saya belum PPAT jadi belum bisa membantu Bapak/Ibu. Mungkin Bapak/Ibu mau saya rujukkan saja ke rekanan saya yang sudah PPAT?”

Nah, balik ke tema utama, yaitu tentang Ujian PPAT.

Gue daftar ujian PPAT sudah dari November tahun kemarin, dan ujiannya sendiri diadakan bulan April tahun ini.
Langkah pertama setelah tahu kalau akan diadakan ujian PPAT adalah gue langsung kelimpungan buat cari temen bareng karena ujiannya diadakan di Sleman, Jogjakarta. Males banget kalau sampai harus menjelajahi Jogja sendirian. Belum lagi kalau sampai harus kesasar-sasar sendirian. Whadaw… Selain itu kalau ada temen bareng kan lumayan bisa diajak belajar bareng biar gak garing, dan kalau ada sesuatu yang gue gak tahu kan jadinya bisa tanya-tanya dia. Hehehe…

Tapi gue juga males kalau harus join sama temen-temen yang kelompoknya besar, secara gue udah pengalaman kalau kelompoknya terlalu besar begitu yang ada bukannya bisa belajar, yang ada malah ngerumpi dan ngobrol ngalor-ngidul. Haduh… bisa hancur mina dah hasil ujian gue kalau malah ngerumpi dan bukannya belajar. Masa nanti pas ujian gue jawab pertanyaannya malah dengan hasil rumpian gue sama temen-temen? Yang ada pegawai Badan Pertanahan yang koreksi kertas ujian gue ngira kalau gue udah edan. Wkwkwk…

Untungnya temen magang gue dulu, si Ochie, malah duluan ngajakin gue bareng untuk ujian. Dan dia juga gak mau join sama teman-teman yang kelompoknya besar dengan alasan yang sama seperti alasan gue. Ya bagus lah, akhirnya kita putusin kalau kelompok kita ini bakal hanya berdua, gue dan dia, saja. Paling kalau nanti-nanti nambah satu orang boleh lah.

Masalahnya adalah… Ochie itu cewek. Gue sih seneng-seneng aja punya temen bareng, tapi temen bareng kan lebih enak kalau bisa nyewa kamar hotel berbarengan. Hitung-hitung menghemat biaya hotel kan. Lha ini gue cowok, barengnya sama anak cewek, masa mau sekamar? Apalagi si Ochie udah menikah juga, jadi dia itu istri orang, saudara-saudara. Apa lah nanti kata dunia? Yuk mari skandal. Hehehe…

Gue sih udah pasrah aja dah. Yang penting kan punya temen barengan yang bisa diajak belajar. Apalagi gue dan Ochie dulu magang bareng, jadi kurang lebih kita udah ngerti sifat n pembawaan masing-masing.

Ternyata, saudara-saudara, dia nelpon gue n bilang kalau nanti di Jogja lebih baik kita sekamar aja demi penghematan biaya. Gue udah bingung mau jawabnya gimana. Kalau gue pribadi sih orangnya cuek, dia mau sekamar sama gue ya nggak apa-apa. Tapi suami dia gimana? Kalau suaminya tahu belakangan bahwa istrinya sekamar sama gue apa nggak keluar tanduknya tuh suami?

Eh gak tahunya tiba-tiba suaminya gantian ngomong ke gue, minta supaya gue sekamar sama istrinya, itung-itung sekalian ngejagain istrinya.

Gue gak tahu harus bereaksi gimana lagi selain: GUBRAK!

Wakakaka…

Oh well, kalau suaminya saja udah percaya sama gue, ya sudah lah, mau gimana lagi? Paling kalau ditanya sama orang lain ya kita ngaku sepupuan aja lah ya. Xixixi… Sepupu ketemu tua.

Enaknya buat gue, si Ochie ini penganut faham gerak cepat. Dia langsung nyari-nyari hotel yang lumayan murah n gak terlalu jauh dari tempat penyelenggaraan ujian. Jadinya gue cuman tinggal oke-oke saja sama hotel hasil temuan dia. Hehehe…

Setelah menunggu dan mempersiapkan berbagai bahan belajar yang punya hubungan dengan ilmu pertanahan (yang banyaknya naudzubilah amit-amit jabang bayi lanang wedok ketok kayu berkali-kali), akhirnya hari H ujian pun tiba.

Jeng jeng jeng… *musik dramatis lagi*

Ujiannya terbagi jadi 2 hari. Ujian hari pertama sih bahannya lumayan gak terlalu menyiksa jiwa raga, karena yang diuji hanya teori-teori tentang hukum pertanahan, pendaftaran tanah, kantor pertanahan, dan teori-teori lainnya.

Yang bikin bete adalah fakta bahwa gue ujian di ruangan yang biasa dipakai jadi kantin di Sekolah Tinggi Pertanahan (sekolah itu memang biasa dipakai jadi tempat ujian PPAT). Ruangannya sih besar, tapi untuk memaksimalkan kapasitas ruangan itu, semua meja makan disingkirkan dan yang tersedia hanya kursi yang diatur berderet-deret. Ada kali tuh seribu orang duduk berjejer-jejer di situ. Cuman saja, ya begitu, TIDAK ADA MEJA! Hiks! Terpaksalah gue ujian berjam-jam dibantu dengan papan bantu menulis. Pegel saudara-saudara, harus ujian sambil megangin papan begitu. Tangan kiri megangin papan, sementara tangan kanan gak berhenti menulis.

Sebenernyat tempat ujiannya tidak hanya di tempat kantin itu saja sih. Gedung-gedung lain di Sekolah Tinggi Pertanahan itu yang biasa dipakai untuk perkuliahan semuanya dipakai untuk ujian, tapi karena yang ikut ujian banyak banget akhirnya ya terpaksa kantin juga dipakai untuk ujian. Kalau gak salah inget sih yang ikut ujian PPAT tahun 2013 ini ada 2750 orang. Hweh…

Pas ujian hari pertama selesai, badan udah pegel semua karena kan duduk berjam-jam, nunduk menulis sambil memegangi papan. Tapi kita belum bisa istirahat karena besoknya masih ada ujian lagi.

Ujian hari kedua lebih parah lagi, karena salah satu bahan ujiannya adalah ujian praktek pembuatan akta.

Hadeuh… Neraka jahanam bener dah tuh…

Kenapa gue bilang neraka jahanam? Karena begini:

Buat orang yang tidak/belum mengerti tentang akta PPAT, perlu diketahui adalah sampai dengan tahun ini para PPAT membuat akta dengan cara menggunakan blanko.

Apakah blanko itu? Blanko itu adalah akta kosongan yang mirip seperti formulir, jadi PPAT yang ingin membuat akta hanya tinggal mengisi bagian-bagian blanko yang masih kosong dan sudah disediakan itu.

Nah, ternyata tahun ini Badan Pertanahan membuat kebijakan baru bahwa PPAT tidak lagi membuat akta dengan menggunakan blanko, dan sebagai gantinya para PPAT membuat akta dengan mengetik sendiri aktanya dari awal sampai akhir (sama seperti akta notaris).

Yang bikin gue kelimpungan adalah, contoh-contoh soal ujian pembuatan akta dari tahun-tahun sebelumnya selalu menggunakan blanko, jadi biasanya yang dibuat rumit dalam soalnya adalah tentang para kliennya, jadi orang-orang yang diuji bakal dibuat mumet tentang bagaimana menuliskan identitas para klien dengan jelas, tapi karena menggunakan blanko, mereka tidak perlu mumet soal isi (pasal-pasal) aktanya.

Ternyata tahun ini ujiannya menggunakan style yang berbeda, yaitu ujian pembuatan akta tidak lagi menggunakan blanko.
Pas gue menerima soal ujiannya, dan gue menyadari bahwa di soal-soal ujian itu tidak disediakan blanko, gue langsung panik berat.
Gimana gak panik kalau selama ini gue hanya mempelajari tentang bagaimana mengisi blanko akta, sementara ternyata ujiannya menyuruh gue membuat akta itu dari awal sampai akhir termasuk pasal-pasalnya.

Bener aja, yang kaget gak cuman gue. Semua peserta ujian pada cuman bisa terkesima karena mereka juga baru sadar kalau mereka harus menulis ulang akta-akta PPAT yang biasanya sudah saklek pakemnnya karena sudah berupa blanko.

Tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah duduk di ruang ujian, jadi ya kita gak punya pilihan lain selain terjun bebas dan mencoba membuat akta-akta yang diminta sebaik mungkin mengandalkan memori kita yang terbatas ini. Hiks…

Begitu ujian hari kedua itu selesai, badan rasanya udah gak karuan. Pegel, capek, kaku, pusing, laper, bete, semua diublek jadi satu.
Di hari kedua itu gue dan Ochie pisah jalan. Dia sudah janjian sama temen-temen dia yang lain yang kebetulan ada di Jogja buat jalan-jalan. Dia nawarin gue buat gabung sih, tapi gue nolak karena gue beneran udah capek banget rasanya. Jadilah gue melewati malam terakhir gue di Jogja dalam rangka ujian PPAT itu dalam kesendirian yang syahdu (pret… dung… chuih…) whakhakha…

Yang bikin gue bete adalah, di malam terakhir itu saking capeknya, kaki gue akhirnya kram dengan suksesnya. Hiks… Karena cuman tinggal sendirian di kamar hotel ya gue cuman bisa meringis sambil melafalkan segala sumpah serapah yang gue tahu.
Well, itu adalah cerita ringkasan petualangan gue ikut ujian PPAT di Jogjakarta. Orang lain mah ke Jogja buat wisata, gue ke sana kok kayanya malah buat menjalani penyiksaan. Hieh!

Tapi nggak apa-apa. Kalau nggak seperti itu kan malah nggak ada kenangannya. Hehehe…

Sukur alhamdulilah, bulan Juli kemarin hasil ujiannya sudah keluar dan gue ternyata lulus buat jadi PPAT dengan wilayah kerja Kabupaten Gresik, sesuai dengan wilayah kedudukan gue sebagai Notaris.

Sujud sukur dah gue. Bener-bener speechless, karena gue menjalani tuh ujian dengan segala kekurangan gue sebagai Burung Hantu Oversize begini, tapi ya ternyata bisa lulus juga. Kayanya kalau gue nggak lulus bisa nangis bombay dah gue, secara bener-bener tersiksa kalau harus menjalani ujian yang bikin capek seperti itu.

Gue bener-bener bersukur, karena ujian PPAT terkenal bukan ujian yang sifatnya formalitas doang. Dengan kata lain, di ujian PPAT ini kalau nilainya kurang ya gak bakal lulus. Tahun ini saja yang tidak lulus cukup banyak (soal berapa yang gak lulus, gue gak ngomong dah, pokoknya banyak).

Oh well, sekarang tinggal mikirin rencana kapan ke Jakarta buat menyetor berkas-berkas permohonan pengangkatan sebagai PPAT. Hehehe…

Oh, satu hal yang gue lupa cerita. Buat ujian PPAT itu, semua peserta diwajibkan pakai kemeja putih dan celana/rok hitam. Sebenernya nggak apa-apa sih, cuman saja mau ujian jadi PPAT kok rasanya malah seperti jadi Sales Promotion Girl/Boy yang masih dalam masa percobaan gara-gara pakai baju hitam-putih begitu. Hahaha…

So, begitulah cerita gue tentang ujian PPAT yang gue ikuti kemarin itu. Semoga yang baca bisa dapet bayangan tentang apa saja yang harus dihadapi kalau ingin menjalani ujian PPAT.

Oleh: ditogendut | 7 Maret 2012

Akta Perjanjian Hidup Bersama


You Are a Revolutionary


You have many talents, and you are great at sharing those talents with others.
Most people would be jealous of your clever intellect, but you’re just too likeable to elicit jealousy.

Progressive and original, you’re usually thinking up cutting edge ideas.

Quick witted and fast thinking, you have difficulty finding new challenges.

Your strength: Your superhuman brainpower

Your weakness: Your susceptibility to boredom

Your power color: Tangerine

Your power symbol: Ace

Your power month: May

.
Kemarin ada seorang adik kelas dari MKn UI yang tiba-tiba menghubungi melalui twitter. Dia meminta gue untuk mengecek message dari dia yang dikirim lewat Facebook. Setelah berjuang panjang lebar – karena Facebook lagi error – akhirnya bisa juga gue baca message dia itu. Apa daya, pas waktu mau jawab, ternyata Facebook kumat errornya jadi failed terus setiap mau posting jawaban gue.
.
Hieh… Facebook lagi gak kompak nih. Oh well… jadilah sekarang cuman bisa menunggu pagi untuk mengirim jawaban lewat twitter.
.
Yang pengen gue bahas di sini adalah pertanyaan yang dia kasih melalui message dia itu. Dia bertanya tentang Akta Perjanjian Hidup Bersama.
.
Frase itu benar-benar menimbulkan rasa… aneh. Bukan apa-apa sih, tapi beberapa hari yang lalu pas lagi bengong tiba-tiba kepikiran untuk membuat entry di blog ini untuk membicarakan tentang akta itu, eh tiba-tiba ada yang ngajakin bicara tentang akta itu pula gara-gara dia pernah baca hal itu di blog gue ini (entry tanggal berapa tuh? Gue aja lupa. #tepok_jidat). Mungkin memang sudah ‘garis’-nya buat gue untuk membicarakan akta yang satu itu kali ya?
.
Well, tanpa menunda-nunda lagi, inilah sudut pandang gue mengenai Akta Perjanjian Hidup Bersama.
.
So… judulnya Perjanjian Hidup Bersama… kesannya provokatif banget ya judulnya? Hahaha…
.
Gue maklum kok kalau orang-orang nyambernya langsung menyamakan istilah ‘hidup bersama’ dengan istilah ‘kumpul kebo’ atau dengan istilah kunonya ‘samen leven’. Dari judul itu memang tidak bisa dihindarkan kalau hal yang muncul adalah hal-hal seperti itu. Gue akan coba bahas akta ini dari sudut pandang praktis, pragmatis, dan legal, dan bukan dari sudut pandang kesusilaan.
.
Secara historisnya memang tujuan awal dibentuknya Akta Perjanjian Hidup Bersama memang kurang lebih adalah untuk mengatur mengenai pengaturan harta antara pria dan wanita yang akan hidup bersama dalam keadaan quasi-rumah-tangga (dibilang rumah tangga ya bukan, tapi kalau dibilang bukan rumah tangga ya sebenernya memang sudah mirip rumah tangga). Coba kita pikirkan, kenapa kok akta seperti ini sampai perlu ada?
.
Mungkin untuk negara yang mayoritas Islam – dimana konsep perceraian dan poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan – seperti Indonesia, akta seperti ini tidak akan langsung terlihat perlunya. Tapi, coba pikirkan latar sejarah hukum di Indonesia. Indonesia, yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda, adalah jajahan Belanda, dan karenanya hukum yang berlaku di Indonesia sangatlah ‘bernuansa’ Eropa, terutama Eropa Kontinental. Agama yang mayoritas ada di Eropa Kontinental adalah agama Kristen Katolik Roma, dimana konsep perceraian adalah sesuatu yang hampir amat sangat sulit untuk terjadi. Kalaupun seseorang bisa bercerai dari pasangannya, dia perlu mendapatkan dispensasi dari Vatikan.
.
Jaman sekarang dimana sudah ada internet, telepon, fax, mungkin hal seperti mengurus proses permohon dispensasi itu bisa dilakukan dengan mudah (walaupun mendapatkannya tetap saja susah sih). Jangankan internet, telepon, atau fax; pos saja sudah cepat sekali di jaman sekarang ini.
.
Sekarang bayangkan, orang Eropa yang beragama Katolik di jaman tahun 1800-an yang tinggal dan berkerja di Indonesia, dan dia ingin bercerai dari pasangannya. Bayangkan berapa lama waktu yang dia perlukan untuk mengurus permohonan dispensasi itu? Setahun atau dua tahun saja sudah bisa dianggap cepat sekali. Itu pun kalau permohonan dispensasinya itu dikabulkan.
.
Bayangkan kalau selama proses permohonan dispensasi itu (atau kalau permohonannya ditolak) dan dia menemukan orang yang lebih cocok untuk dia jadikan sebagai pasangan hidup. Lalu dia harus bagaimana?
.
Bisa saja sih dia langsung melakukan kumpul kebo dengan pasangan barunya itu, tapi lalu bagaimana? Hidup kan tidak selalu bahagia dan bersenang-senang. Ada saatnya kesulitan dan kedukaan terjadi dalam hidup. Bagaimana kalau salah satu pihak dalam kumpul kebo itu mengalami pailit? Apakah harta pasangan kumpul kebonya bisa ikut terseret-seret dalam harta pailit? Bagaimana kalau salah satu dari pasangan itu ada yang meninggal dunia? Apakah pasangannya yang masih hidup bisa menjadi ahli waris pasangan yang meninggal?
.
Atau tidak perlu sampai keadaan yang sedrastis itu deh. Bagaimana kalau rumah tempat mereka tinggal mengalami kerusakan, siapa yang akan mengeluarkan biaya untuk memperbaikinya? Kalau salah satu ada yang sakit, apakah yang lainnya berkewajiban untuk membantu biaya berobat? Bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari, apakah ditanggung bersama-sama ataukah salah satu pihak akan menanggung biaya hidup sehari-hari sementara pihak yang lain akan menanggung biaya-biaya insidentil (memperbaiki rumah dan biaya berobat)?
.
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah Perjanjian Hidup Bersama diperlukan.
.
Seperti namanya, akta ini adalah sebuah perjanjian, yang kalau dalam hukum indonesia diatur dalam Buku Ke-3 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dan, seperti umumnya perjanjian-perjanjian yang diatur dalam Buku Ke-3 itu, hal-hal yang diatur dalam sebuah Perjanjian Hidup Bersama adalah semata-mata hal-hal yang berhubungan dengan harta benda, tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Inilah perbedaan mendasar antara Akta Perjanjian Hidup Bersama dengan sebuah Perkawinan, karena perkawinan bukanlah semata-mata sebuah perjanjian melainkan dianggap sebagai sebuah institusi tersendiri. Bahkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata saja, perkawinan diatur dalam buku tersendiri yaitu Buku Ke-1, bersama-sama dengan peraturan tentang orang, waris, dan keluarga. Terlebih lagi di Indonesia pada masa sekarang ini peraturan perundang-undangan mengenai perkawinan sudah dipisah dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
.
Lalu apakah peran Akta Perjanjian Hidup Bersama itu hanya terbatas untuk ‘kepentingan’ kumpul kebo saja?
.
Gue rasa jawabannya adalah: tidak.
.
Alasannya adalah pertanyaan berikut ini: Apakah orang yang hidup bersama sudah pasti dalam keadaan Kumpul Kebo?
.
Kalau beberapa orang kakak beradik yang memutuskan untuk hidup bersama dalam rumah warisan orang tuanya, apakah itu termasuk kumpul kebo? Nggak kan?
.
Apakah karena mereka bersaudara lalu mereka akan bebas sama sekali dari permasalahan harta dan pembiayaan? Nggak kan?
.
Selama mereka tinggal di bawah atap yang sama, mereka akan menghadapi permasalahan yang sama dengan permasalahan-permasalahan yang tadi gue angkat untuk pasangan kumpul kebo. Siapa yang akan mengeluarkan uang untuk kehidupan sehari-hari? Siapa yang akan mengeluarkan biaya untuk perbaikan dan pemeliharaan rumah tempat mereka tinggal itu? Kalau salah satu dari saudara bersaudara itu ada yang sakit, apakah yang lain berkewajiban untuk membantu biaya berobatnya?
.
Mungkin mengenai waris mewaris tidak perlu diatur dalam Akta Perjanjian Hidup Bersama (selama mereka memang saling bersaudara, mereka adalah ahli waris satu sama lain), tapi hal-hal kecil yang gue sebutkan di atas itu adalah hal-hal yang tidak bisa dihindarkan, dan memang merupakan sebuah konsekuensi dari beberapa orang yang hidup di dalam rumah yang sama.
.
Belum lagi pengaturan-pengaturan tambahan yang muncul kalau salah satu saudara itu ada yang menikah dan membentuk keluarganya sendiri di dalam rumah itu. Sudah pasti akan muncul komplikasi-komplikasi tambahan dalam pengaturan hidup bersama mereka. Apakah saudara dari orang yang sudah berkeluarga itu berkewajiban untuk membantu pembiayaan keluarga kecil yang baru terbentuk itu?
.
Pengaturan-pengaturan kecil yang sekilas tidak terpikir itu pada saatnya nanti akan berpotensi untuk menjadi permasalahan tersendiri di antara saudara bersaudara itu. Kalau pengaturan-pengaturan itu sudah ditetapkan sejak awal, maka komplikasi-komplikasi itu bisa dihadapi tanpa menimbulkan permasalahan yang lebih besar.
.
Perlu diingat, walaupun sudah ada pengaturan di dalam Akta Perjanjian Hidup Bersama, namun masih dimungkinkan untuk dilakukan penyimpangan-penyimpangan, selama semua pihak yang membuat perjanjian itu menyetujui penyimpangan tersebut. Contohnya, mengenai biaya berobat, kalau dalam perjanjian diatur kalau saudara-saudara yang tinggal serumah itu tidak wajib membantu pembiayaan pengobatan saudara yang sakit, namun pada prakteknya para saudara yang lainnya dengan suka rela membantu pembiayaan pengobatan itu, ya tidak akan dilarang, selama pihak-pihak yang mengeluarkan uang tidak merasa dirugikan dan pihak yang menerima juga tidak berkeberatan dengan bantuan itu.
.
Nah, sekarang coba gue bahas sesuatu yang lebih sensitif…
.
Hubungan antara Akta Perjanjian Hidup Bersama dengan pasangan sejenis.
.
Perlu menekankan kalau gue membahas ini dari sudut pandang gue sendiri, bukan dari sudut pandang notaris secara keseluruhan. Karena itu gue menyatakan bahwa gue tidak berkeberatan kalau pasangan sejenis (gay/lesbian) menggunakan Akta Perjanjian Hidup Bersama ini sebagai dasar bagi mereka untuk membentuk kehidupan pribadi mereka.
.
Selama perjanjian itu sepenuhnya dipergunakan untuk menetapkan pengaturan tentang harta pasangan-pasangan itu, gue sama sekali tidak punya keberatan bagi mereka mempergunakan Perjanjian Hidup Bersama.
.
Jujur, gue orang cukup liberal (meskipun kadang konservatif juga sih, hehehe…) untuk menyatakan bahwa apa yang seseorang lakukan di dalam kamar tidur mereka bukanlah urusan gue.
.
Kalau ada orang-orang yang datang ke gue dan meminta untuk gue buatkan Akta Perjanjian Hidup Bersama, sebagai seorang notaris, gue tidak bisa menolak. Selama akta itu hanya akan mengatur mengenai harta benda mereka, gue nggak punya alasan apapun untuk menolak membuatkan akta itu. Beda kalau mereka meminta gue membuat akta itu senada dengan sebuah pengaturan perkawinan, gue tidak bisa membuatkan karena hal itu jelas-jelas berlawanan dengan hukum.
.
Selama mereka datang ke gue semata-mata sebagai 2 orang laki-laki atau 2 orang perempuan yang berencana untuk berbagi rumah yang sama, dan karena itu mereka perlu menetapkan pengaturan-pengaturan tentang harta mereka selama mereka tinggal dalam satu rumah itu, jawaban gue secara sederhana adalah: Okay.
.
Hmm… pikiran romantis gue tiba-tiba muncul nih… Hahaha… Tiba-tiba kepikiran, kalaupun Akta Perjanjian Hidup Bersama itu semata-mata dan sepenuhnya dibuat untuk kepentingan pengaturan harta, dan bukan pengaturan lainnya, selembar dokumen itu akan dibubuhi tanda tangan kedua orang itu. Sedikit banyak, akta yang sekilas dibaca hanya mengatur tentang harta itu akan menjadi sesuatu yang spesial dan khusus di antara kedua orang itu. Hmmm… gue rasa ada romantisme yang terkandung dalam keadaan itu. Hahaha…
.
OMG, begini nih kalau subuh-subuh bikin entry blog, pikiran susah untuk dipaksa tetap serius dah. Wakakaka…
Oleh: ditogendut | 24 Februari 2012

Kreatifitas Dan Notaris


You Are Cheese Pizza


Traditional and comforting.
You focus on living a quality life.

You’re not easily impressed with novelty.

Yet, you easily impress others.

.

Sebenernya gue agak malas mengakui ini, tapi sepertinya (seperti kebanyakan pekerjaan lainnya) berkerja sebagai seorang notaris memaksa gue untuk menghadapi hal-hal yang tidak pernah diajarkan selama kuliah, baik kuliah untuk ilmu hukum maupun kuliah untuk ilmu notaris.

Sudah 2 tahun sejak gue disumpah jadi notaris, dan jujur saja, hampir semua kasus yang gue hadapai sejauh ini hampir tidak ada yang sesuai dengan teori-teori ataupun contoh-contoh kasus yang diberikan selama kuliah.

Tidak, gue tidak membicarakan soal hal-hal yang ‘menyimpang’. Kalau hal-hal yang menyimpang ternyata tidak sesuai dengan apa yang gue pelajari selama kuliah, yah, itu sih sudah lumrah lah ya. Namanya saja ‘menyimpang’ jadi ya tidak mungkin sesuai dengan teori-teori yang dipelajari selama kuliah.

Gue membicarakan tentang kasus-kasus standar, kasus-kasus yang memang sudah seharusnya dan sewajarnya dihadapi seorang notaris. Selama masih kuliah, para dosen sepertinya sudah berusaha memberi contoh-contoh keadaan dimana seorang notaris harus menghadapi kasus yang walaupun standar (seperti pembuatan akta kuasa lah contohnya), namun memiliki komplikasi-komplikasi sehingga kita harus pintar-pintar bermanuver saat penyusunan draft akta sehingga akta yang diinginkan bisa menyesuaikan dengan keperluan klien yang memiliki komplikas-komplikasi tersebut.

Sayangnya, seaneh-anehnya dan seajaib-ajaibnya contoh-contoh kasus yang disajikan oleh para dosen itu ternyata masih belum cukup ekstrim untuk membuat para mahasiswanya siap menghadapi kasus-kasus aneh yang ada di dunia asli seorang notaris.

Sayang gue tidak boleh cerita banyak tentang kasus yang gue tangani. Melakukan itu artinya gue melanggar kode etik dan undang-undang, ntar gue bisa dicekek dan dimaki-maki oleh Majelis Pengawas. Hiks… Tapi percaya deh, dari sekian kasus yang gue hadapi, hampir semuanya memaksa gue untuk memodifikasi draft-draft akta yang sudah gue punyai. Sukur-sukur kalau modifikasi yang diperlukan tidak terlalu susah, tapi kenyataannya modifikasi yang diperlukan hampir selalu modifikasi yang ribet, ruwet, dan hampir selalu membuat gue bernafsu untuk jejeritan “Harus ya seperti itu!?” sambil nangis-nangis gaya Bollywood (you know, nangis sambil joget-joget di taman dan bergerak muter-muterin tiang)

Keadaan ini membuat gue teringat dengan saat gue kuliah di notariat, di mata kuliah Akta Keluarga dan Perorangan.

Waktu belajar mata kuliah itu, kita akan belajar bagaimana membuat akta wasiat dan akta perjanjian kawin yang standar. Waktu mempelajari akta-akta itu, gue berpikir “Kenapa hanya untuk hal seperti ini saja kok diperlukan begitu banyak variasi?” karena memang kedua jenis akta itu punya variasi yang sangat banyak. Semuanya memang mirip satu sama lain, tapi ada beberapa kata yang berbeda sehingga membuat efek dari akta itu berbeda drastis dari satu dengan yang lainnya.

Contoh gampang adalah akta wasiat. Ada akta wasiat yang saksi aktanya ikut hadir saat akta itu dibacakan, ada yang saksi aktanya tidak ikut hadir saat aktanya dibacakan dan hanya hadir saat akta itu akan ditandatangani, ada yang akta wasiatnya dikarang sendiri oleh orang yang membuat wasiat (sehingga kemungkinan besar kata-katanya tidak sesuai dengan asas bahasa indonesia yang baik dan benar) sehingga si notaris terpaksa hanya bisa menyuplik karangan si pembuat wasiat itu, dan ada akta yang bahkan notarisnya sendiri tidak tahu apa isi wasiatnya karena surat wasiatnya sudah ditulis sendiri oleh orang yang membuat wasiat dan si notaris hanya membuat akta “penitipan surat”.

Akta perjanjian perkawinan (PK) juga begitu. Akta yang paling standar adalah akta PK dimana semua harta suami dan istri tidak bercampur sama sekali sejak awal. Sementara yang agak variatif adalah akta PK dimana harta bawaan tidak bercampur namun harta yang didapat selama perkawinan berlangsung dianggap bercampur. Atau justru sebaliknya, harta bawaan dianggap bercampur tapi harta yang didapat selama perkawinan dianggap milik si suami/istri yang mendapatkan harta itu, dan varian-varian lainnya.

Waktu itu yang membuat gue bertanya-tanya, kenapa kok akta jenis itu sepertinya variannya banyak sekali, sementara akta-akta lainnya kok variannya tidak sebanyak itu, bahkan justru cenderung hanya sedikit.

Ternyata, akta-akta yang variannya sedikit (seperti akta jual beli barang, akta sewa, akta fidusia, dll) itu bukannya hanya memiliki sedikit varian, melainkan justru karena variannya ada sebegitu banyaknya sehingga hampir mustahil untuk menyuguhkan semua varian-varian itu dalam perkuliahan.

Akta wasiat dan PK yang sekilas variannya kelihatan ada banyak, justru sebenarnya memiliki varian yang lebih sedikit karena semua varian yang pernah ada adalah varian-varian yang disuguhkan selama kuliah itu.

Akhirnya sekarang gue jadi agak menyadari sesuatu yang baru. Ilmu notariat itu bukanlah hanyalah sebuah ilmu seperti ilmu hukum pada umumnya, tapi sudah merupakan sebuah seni. Notaris harus bisa kreatif menyesuaikan penggunaan kata-kata yang ada di dalam akta yang dibuat agar benar-benar sesuai dengan orang yang memerlukan akta itu.

Oke lah, gue memang tidak bisa menklaim kalau seni ilmu notaris itu sama seperti seninya para seniman murni yang bebas berekspresi dengan media apapun, dengan tema apapun, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun si seniman itu suka. Tapi, notaris itu punya kesamaan dengan seniman-seniman dari cabang-cabang seni terapan. Seperti seorang pengrajin kayu yang mendapat order membuat lemari, dia memang bagaimanapun juga harus memenuhi order itu dan membuat sebuah benda yang gunanya untuk menyimpan benda-benda lainnya, yaitu kodrat sebuah lemari. Tapi kalau dia memang benar-benar seorang seniman (dan bukan hanya sekedar seorang tukang kayu) dia akan memperhatikan keperluan, kesukaan, selera, dan bahkan nuansa rumah orang yang memesan lemari itu sehingga lemari yang dibuatnya bisa benar-benar sesuai dengan si pemesan.

Oh, mungkin contoh yang lebih tepat adalah penjahit ya? Dia harus tunduk pada standar-standar bentuk sebuah jenis pakaian – seperti jas sebagai contohnya – tapi dia juga harus mengerti seninya menyesuaikan bentuk jas yang dibuatnya dengan bentuk badan orang yang minta dibuatkan jas itu, dengan tujuan bahwa jas tersebut akan tampak bagus saat dipakai oleh si pemesan dan penampilan si pemesan juga akan mendapatkan nilai tambah saat mengenakan jas tersebut.

Notaris juga seperti itu. Kita harus tunduk pada bentuk dan isi standar sebuah jenis akta, tapi pada saat yang sama kita juga harus bisa menambah, mengurangi, mengganti kata-kata dalam akta itu, atau menambahkan satu kalimat dan bahkan satu pasal baru dalam akta itu, sekedar agar akta yang dibuat itu benar-benar bisa menyesuaikan dan memenuhi keperluan si pembuat akta.

Sayangnya, gak ada dosen yang menyempatkan diri untuk memberitahu gue tentang itu!

Hiks hiks hiks…

Bahkan di lingkungan sesama orang yang mempelajari ilmu hukum, notaris sering dianggap cukup memakai standar akta yang sudah ada, memasukkan nama-nama para penghadap yang minta dibuatkan akta, membacakan akta itu di depan para penghadap, menandatangani akta itu, dan presto! akta itu sudah selesai. Dulu pun gue juga beranggapan seperti itu. Tapi begitu gue menjalani pekerjaan ini sendiri, ternyata pekerjaan seorang notaris lebih cenderung seperti pekerjaan seorang Advokat non-Litigasi yang pekerjaannya adalah contract drafting.

Bahkan untuk kasus-kasus tertentu, terkadang seorang notaris harus bisa memulai penyusunan akta dari nol, karena belum ada; atau si notaris tidak bisa menemukan; draft akta yang sesuai dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Hadeuh… kalau yang seperti itu sih benar-benar susah namanya. Benar-benar terasa jadi pujangga yang tertindas. Jadi pujangga karena harus bisa mengarang bebas, tapi tertindas karena harus memastikan bahwa akta karangannya itu masih memenuhi standar ‘nuansa’ sebuah akta, dalam arti tidak boleh menggunakan kata-kata yang bombastis, tidak boleh ada perumpamaan, alegori, metonimia, narasi, hiperbola atau apapun juga jenis ‘kembang-kembang’ sastra yang terkadang tanpa sadar kita gunakan dalam gaya bahasa kita sehari-hari.

Omong-omong, kelihatan sekali ya kalau gue baru saja menghadapi kasus yang memaksa gue untuk mengarang bebas ya? Hahaha… Iya, emang sih gue baru dapat kasus yang mengharuskan gue untuk mengarang sebuah akta dari awal. Jujur saja, gue belum pernah ketemu contoh akta yang diperlukan untuk memenuhi keperluan si penghadap itu, jadilah gue terpaksa mengarang isi akta itu dari awal sampai akhir.

Itu adalah sebuah pengalaman yang amat sangat melelahkan…

Yah, semoga ini bisa jadi peringatan untuk orang-orang yang ingin jadi notaris karena menganggap pekerjaan notaris adalah mudah karena “tinggal menyontek draft akta yang sudah ada”. Gue kasih tahu aja nih sekarang, kalau 1000 orang masing-masing meminta dibuatkan akta kuasa, maka kita akan membuat 1000 akta kuasa yang nuansanya berbeda-beda, dan kita sebagai notaris adalah orang yang bertugas untuk membuat nuansa-nuansa itu sesuai dengan orang yang meminta.

P.S.: Kecuali kalau akta-akta yang dibuat ada hubungannya dengan bank. Bank tidak suka kalau akta yang berhubungan dengan mereka memiliki bunyi yang berbeda-beda, jadi kita pasti membuat akta yang sama persis isinya. Hhh… seandainya semua orang yang membuat akta memiliki keinginan seperti bank, dunia seorang notaris pasti akan jauh lebih mudah… (ngayal mode)

Oleh: ditogendut | 18 November 2010

Le Roi Danse

.

Note: Okay, gue tahu seharusnya gue menulis tentang kehidupan gue di Surabaya, tapi jujur saja hampir tidak ada hal luar biasa yang patut untuk diceritakan sampai dengan saat ini. Jadi daripada blog ini menganggur, akhirnya gue memutuskan untuk menulis entry ini. Semoga saja nanti-nantinya ada hal-hal menyenangkan yang bisa gue tulis mengenai kehidupan baru gue di Surabaya.

Film ini berjudul La Roi Danse (Sang Raja Sedang Menari). Film ini adalah film berbasa Perancis buatan tahun 2000 oleh seorang sutradara Belgia bernama Gerard Corbiau.

Cerita film ini berfokus pada kehidupan dan hubungan dua orang tokoh utamanya. Tokoh yang pertama adalah seorang komposer musik Baroque bernama Jean Baptiste Lully (1632-1687),

yang dimainkan oleh Boris Terral.

Lalu penokohan yang kedua adalah Raja Louis XIV (1638-1715),

yang dimainkan oleh Benoit Magimel.

Gue nggak begitu tahu mengenai seberapa tepatnya film ini menceritakan sejarah kehidupan dan hubungan kedua tokoh itu. Biasanya gue agak terganggu dengan film-film dokumenter yang terlalu melenceng dari sejarah sebenarnya, namun untuk kali ini gue bersedia untuk menutup mata terhadap ketidaktepatan yang mungkin ada. Sebabnya adalah, musiknya amat sangat bagus sekali!

Sebelum menonton film ini gue sama sekali tidak tahu apa-apa tentang komposer yang bernama Jean Baptiste Lully, tapi begitu selesai menonton film ini, gue langsung termehek-mehek dengan komposer yang satu itu.

Perlu diperhatikan bahwa pada setting waktu yang ada di film itu, Perancis menganut selera musik yang berbeda dengan Italia. Itali cenderung kepada opera, sedangkan Perancis lebih cenderung menyukai lagu-lagu yang mengiringi tarian dan balet.

Kebetulan, raja Louis XIV suka menari. Ingat, dia bukan suka MENONTON tarian, tapi dia suka MENARI. Lully, yang kelahiran Florence (bagian dari Itali), adalah seorang komposer dengan ciri-ciri musik yang dinamis sehingga lagu-lagu buatannya memang cocok untuk menari.

Klop kan?

Karena kecocokan itulah Lully kemudian menjadi komposer favorit Louis. Lully sendiri merasa ia telah menemukan ‘kanvas’ yang tepat dalam diri Louis. Jadilah Lully sering membuat komposisi-komposisi lagu yang sengaja dibuat khusus untuk mengiringi tarian Louis.

Karena sering berkreasi dalam musik dan tari bersama-sama, hubungan Raja-Komposer itu menjadi dekat, bahkan Lully menjadi salah satu dari sedikit orang yang dianggap oleh Louis sebagai teman.

Dari kedekatan itu juga Lully jadi bisa memperhatikan dan menyaksikan secara langsung perkembangan Louis dari yang hanya merupakan seorang anak kecil yang diangkat menjadi raja ‘boneka’ oleh ibu dan menteri-menterinya, sampai Louis menjadi raja yang sebenarnya.

Itulah yang menjadi tema inti film ini, kehidupan raja Louis XIV dilihat dari mata seorang komposer istana.

Tapi untuk gue pribadi, itu tidak penting. Kalau sekedar ingin mengetahui sejarah asli kehidupan Louis dan Lully, gue bisa cari-cari website yang membahas tentang itu.

Yang membuat gue termehek-mehek berat dengan film ini adalah musiknya. Lagu-lagu yang dikedepankan dalam film ini tentu saja lagu-lagu yang dibuat oleh Lully, dan hampir semuanya benar-benar membuat gue terpesona.

Contohnya adalah “Te Deum” yang ada di video ini (lagunya dimulai di menit 2:41).

Yang ditampilkan di video itu memang bukan Te Deum yang lengkap. Itu hanya pembukaannya saja. Setelah itu seharusnya mulai masuk solo Tenor, disusul Bariton, dll sampai akhirnya paduan suara lengkap (panjang lagu itu aslinya 6 menit sendiri).

Selain lagu-lagunya, ada faktor lain yang membuat gue terpesona dengan film ini.

Kostumnya.

Walaupun ada beberapa kostum yang jujur saja terlalu tacky untuk selera gue, tapi gue harus mengakui bagian wardrobe film ini sudah berkerja dengan sangat baik.

So, untuk anda yang suka lagu-lagu baroque, atau film dokumenter (walaupun tidak benar-benar akurat),  atau kostum-kostum eropa jaman abad ke-17, atau sekedar ingin melatih kemampuan bahasa Perancis, silahkan saja menonton film ini. Hehehe…

(Arrrrggghhh…. akhirnya gak tahan juga buat menulis ketidak tepatan film ini. Ada bagian dimana Louis ceritanya lagi sakit parah, dan demi mempertahankan keberlangsungan kerajaan dan dinasti, ibu Louis meminta Luois untuk menunjuk sepupu Louis sebagai pewaris tahta. Aslinya Louis punya adik laki-laki bernama Phillipe, jadi dia tidak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menggantikan dirinya kalau dia sampai meninggal sebelum sempat punya anak. Oke lah, harus gue akui kalau adik Louis adalah seorang gay, tapi fakta itu tidak pernah menghalangi siapapun untuk naik jadi raja sebelumnya (atau di masa-masa sesudahmya). Kalau penasaran adik Louis itu seperti apa, monggo dilihat sendiri

Okay, his bow tie really made him looks oh so fabulous. Tapi sekali lagi, tidak ada alasan apapun yang bisa membuat Phillipe dilupakan begitu saja dalam sebuah film yang membahas tentang kehidupan Louis.)

Oleh: ditogendut | 14 November 2010

A New Start (?)

.


Your Summer Ride is a Beetle Convertible


Fun, funky, and a little bit euro. 

You love your summers to be full of style and sun!

 

Ya ya ya, gue tahu kalau gue sudah berbulan-bulan tidak menulis blog, dan gue tidak punya alasan baik untuk hal itu.  Really sorry about that. :-p

Jadi, sudah berapa lama nih? Terakhir menulis post di bulan Februari kemarin dan sekarang sudah bulan November. Berarti 9 bulan lamanya gue sudah tidak menulis post di blog. Ckckck… bener-bener lama ya. Kalau gue cewek pasti udah ada yang nanyain apa kira-kira gue hamil kok 9 bulan nggak ada kabarnya. Untung aja gue cowok. Hahaha…

Nah, mari kita lakukan up-date tentang diri gue sejak bulan Februari itu. Pertama, gue sudah dapat SK sebagai notaris (yay!) dan bulan April kemarin gue juga sudah diambil sumpahnya sebagai Notaris di kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dan, ya, sejak bulan itu gue sudah pasang plang notaris di Gresik. Sayangnya plang itu baru dipasang di depan sebuah gedung pinjaman teman nyokap gue. Hiks… jadi intinya belum bisa dibilang kantor permanen lah. Oh well

Lalu apa yang gue lakukan antara bulan April sampai sekarang ini, yang mana sudah 5 bulan lamanya? Well… nothing.😀

Yup, gue tidak melakukan apapun, atau paling tidak gue tidak melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif.

Sejak bulan April itu gue konsentrasi dengan dengan proses penjualan rumah keluarga gue di Jakarta, yang mana prosesnya memakan waktu sampai bulan Agustus baru bisa selesai.

Di antara waktu-waktu itu gue hanya bisa mondar-mandir Jakarta-Gresik demi memenuhi syarat “tidak boleh meninggalkan wilayah tugas selama lebih dari 7 hari berturut-turut”. Haeh… Capek men jadi setrikaan mondar-mandir begitu. Tapi, namanya juga bagian dari resiko pekerjaan, mau diapakan lagi?

Lalu setelah proses jual beli rumah selesai di bulan Agustus itu, langkah selanjutnya adalah proses pindahan permanen dari Jakarta ke Surabaya. Ini juga perjuangan panjang yang jujur saja sampai sekarang belum benar-benar selesai (contohnya, KTP gue sekarang masih KTP Jakarta).

Well, proses pindahan itu sendiri makan waktu sekitar 2 bulan dan pada tanggal 7 Oktober 2010 secara resmi gue pindah dari Jakarta ke Surabaya. Yeah! I’m finally back to Surabaya baby!

Jadi, secara de facto gue sekarang adalah warga Surabaya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hehehe… Secara de jure gue masih warga Jakarta karena KTP gue masih KTP Jakarta dan gue masih belum tahu kapan bisa sempat ke Jakarta untuk mengurus perpindahan KTP itu. (kalau mengingat sifat gue, sepertinya kalau nggak kepepet banget mungkin nggak bakal gue pindah tuh KTP, hahaha…)

Untuk kalian yang tidak familier dengan geografi Provinsi Jawa Timur mungkin bertanya-tanya kenapa kok gue malah tinggal di Surabaya padahal gue adalah notaris Kabupaten Gresik. Jawabannya sebenarnya cukup sederhana. Kabupaten Gresik terletak pas di sebelah Barat Kota Surabaya. Jadi kalau kalian sedang melihat peta Provinsi Jawa Timur, dan kalian menemukan Kota Surabaya di peta itu, silahkan geser mata kalian sedikiiitt ke kiri, dan tadaaa… di situlah letaknya Kabupaten Gresik.

Untuk kalian yang biasa di Jakarta, bayangkan letak Kabupaten Tangerang dari arah Kota Jakarta. Ya, seperti itulah letak Kabupaten Gresik terhadap Kota Surabaya. Terlebih lagi, sejarahnya bilang kalau Kabupaten Gresik itu dulunya disebut sebagai Kabupaten Surabaya. Kemudian antara Kabupaten dan Kota Surabaya itu mengalami pemekaran, dan keduanya memisahkan diri. Supaya tidak membingungkan (mungkin, gue nggak tahu pasti sebabnya apa), Kabupaten Surabaya merubah namanya menjadi Kabupaten Gresik.

Nah untuk waktu sekarang ini gue sedang berkonsentrasi mencari bangunan (gue nggak tahu bakalan ruko, atau kios, atau apaan) yang bisa gue sewa dan gue jadikan kantor permanen gue. Yah, kepengennya sih dapat tempat di pinggir jalan besar. Bangunannya sendiri tidak perlu besar atau luas, yang penting cukup untuk dipakai kerja, tapi yang lebih penting adalah letaknya harus di pinggir jalan besar. Alasannya supaya gue bisa ‘nampang’ di hadapan khalayak ramai di Gresik.

Alasan utamanya, gue adalah notaris baru. Itu saja sudah merupakan alasan utama kenapa gue harus nampang di pinggir jalan besar. Gue harus meyakinkan bahwa sebanyak mungkin orang harus bisa melihat plang nama gue, dan bisa melihat kantor gue. It’s the only way untuk mendapatkan klien karena notaris tidak diperbolehkan mempromosikan diri dengan cara lainnya.

Alasan yang kedua adalah, gue bisa dibilang sebagai orang baru di Gresik dan bahkan di Jawa Timur secara keseluruhan. Di sini banyak notaris-notaris baru lainnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa Timur asli, atau lulusan Universitas Airlangga, atau sekedar sudah lama tinggal di Gresik, jadi mereka kemungkinan sudah punya kenalan-kenalan di sini yang bisa membantu mereka ‘menebar nama’. Sementara gue yang besar dan sekolah di Jakarta adalah seorang newbie di sini dan baru akan memulai membangun jaringan dengan orang-orang di sini.

Yah, dengan kata lain, masih ada BANYAK hal yang harus gue lakukan di sini. Tapi untuk sementara ini, gue harus berkonsentrasi mendapatkan tempat yang bisa gue sewa untuk menjadi kantor gue.

Nah, lalu, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat gue akhirnya memutuskan untuk menulis post kali ini. Hal itu adalah, adik gue punya band. Yeay!

Band dia bernama Flazlite. Jujur aja, gue belum tahu banyak tentang band dia itu, tapi kemarin malam dia ngasih tahu gue tentang account band dia itu di Myspace, dan di account tersebut Flazlite memposting lagu buatan mereka sendiri, jadi buat yang anda-anda sekalian yang pengen iseng-iseng mendengarkan lagunya silahkan langsung klik di bawah ini:

FLAZLITE BAND ON MYSPACE

Judul lagu mereka adalah “Meskipun Waktu”, dan sepertinya termasuk jenis lagu ballad. Gue nggak tahu memang mereka aslinya bermaksud membuat lagu itu jadi lagu ballad atau tidak, tapi yang gue tangkep setelah mendengarkan lagu itu adalah, ya, itu adalah sebuah lagu ballad.

Adek gue adalah vokalisnya (namanya Heru) jadi, iya, itu adalah suara dia. Bagus ya? (bertanya begitu sambil tersenyum sadis dan memegang pisau dengan aura mengancam)

Jadi silahkan didengarkan, dan tinggalkan komentar di account mereka. Dengar-dengar mereka masih punya lagu lainnya, dan gue pengen cepetan dengerin lagu mereka yang lain itu. Hehehe…

Terakhir, gue berencana ingin lebih aktif lagi menulis post di blog ini, terutama tentang petualangan-petualangan gue di Surabaya, Gresik, dan bahkan mungkin di wilayah-wilayah lainnya di Jawa Timur ini. Doakan saya!😀

Older Posts »

Kategori