Oleh: ditogendut | 10 Juli 2008

My Worst Day EVER Is The Best Day Of My Life

.


Your IQ Is 125


Your Logical Intelligence is Above Average 

Your Verbal Intelligence is Genius

Your Mathematical Intelligence is Genius

Your General Knowledge is Exceptional

 

(hmm… ini postingan tanggal 3 Maret 2008. Phew… jauh juga ya jaraknya dari postingan sebelumnya.)

Waktu kakek gue meninggal, rasanya bener-bener gak karuan.

Utamanya, karena he’s my surrogate father. Yup, kakek gue adalah bokap angkat gue. Dari kecil yang gue kenal sebagai bokap gue adalah kakek gue.

Dari luar mungkin kelihatan (n kedengaran) kalo he’s just another perverted old man. But what do you expect? HE’S A SURGEON! Semua dokter ahli bedah yang gue kenal pasti pervert. (Maaf sebesar-besarnya untuk para surgeon di luar sana, but it’s the truth.) Seperti yang dibilang sama JD di film sitcom Scrubs, “Surgery is a boy’s club“, jadi gak usah kaget kalo sekian banyak laki-laki dikumpulin, pasti omongannya ga jauh-jauh dari perempuan.

Dulu gue kira cuman bokap doang yang kaya begitu. Ternyata…

Begitu dia kumpul sama temen-temennya, yang diomongin cuman itu-itu doang. Gue yang waktu itu hanya mendengarkan sebagai anak polos yang belum pernah ‘disentuh’ wanita cuman bisa bengong sambil menekan rasa malu sedalam-dalamnya.

Buat temen-temen gue yang merasa dirinya udah cukup pervert, denger kata-kata gue ini. “I’VE SEEN N HEARD WORSE!” Becandaan kalian selama ini gak ada se-kelingking-nya becandaan para ahli bedah itu. Mungkin karena mereka dokter, jadi mereka sama sekali gak ada keragu-raguan untuk menyebutkan segala onderdil manusia yang ada di daerah pinggul, baik punya laki-laki ataupun punya perempuan, dengan suara yang desibelnya bisa bikin orang Batak ngerasa minder karena kalah keras.

Jangankan orang awam, sesama dokter tapi bukan dokter bedah aja bisa tewas kalo kelamaan terekspose pada ke-pervert-an para dokter bedah. Berapa kali gue liat dokter-dokter bius langsung langkah seribu begitu kelar operasi karena mereka takut diajak ngobrol jorok sama dokter bedahnya? Berapa kali gue lihat dokter jantung perlu pakai devibrilator ke dada mereka sendiri kalo udah kelamaan ngobrol sama dokter bedah? Berapa kali gue lihat dokter THT sengaja menularkan virus conge’ dari pasien ke telinga mereka sendiri supaya gak usah dengerin becandaan dokter bedah.

Dijamin, dokter Boyke & dokter Naek L Tobing pasti juga bisa pingsan kalo kelamaan kena radiasi ke-pervert-an dokter-dokter bedah.

Menurut gue pribadi, ke-pervert-an dokter bedah itu adalah kondisi klinis yang menyertai profesi mereka. Buktinya dokter-dokter psikiatri pasti memandang ke arah dokter-dokter bedah dengan wajah tertarik setiap kali ada dokter bedah yang mendemonstrasikan ke-pervert-an mereka, seolah-olah para dokter bedah adalah spesimen schizophrenia type pervert yang menarik.

Paling kasihan para dokter kandungan (OB-GYN), karena gara-gara para dokter bedah, mereka bisa kekurangan pasien. Gimana mau gak kekurangan? Ibu-ibu hamil yang baru pembukaan 1, ngedengerin becandaan para dokter bedah bisa langsung pembukaan 40! Pokoknya tuh bayi langsung lari ngacir dari dalam kandungan dengan tali puser masih bergelantungan kemana-mana n langsung lari keluar RS sambil jerit-jerit “TIDAAAK!!! JANGAAAN!!! GUE BARU LAHIR JANGAN LANGSUNG KENA RADIASI PERVERTNESS PARA DOKTER-DOKTER GILA ITU!!!!” (okay, mungkin hiperbola gue udah rada kelewatan ya?)

Makanya kalo gue lagi butuh ide buat pikiran pervert, gue cuman tinggal nongkrong sama kakek gue dan teman-temannya, gak perlu 5 menit udah ada puluhan ide perverse di kepala gue. Enak kan punya orang tua dokter bedah? Kalo orang tua lain malah berusaha menekan fantasi seks anak-anak mereka, sementara dokter bedah malah memupuk dan mem-“fast forward” perkembangan seks anaknya. Huahahahahaha….

Ehem…

Terlepas dari itu, dia yang ngajarin gue gimana menghadapi hidup dengan tawa (gue dulu orangnya jutek bin serius sampe akhirnya ditonjok [bener-bener ditonjok] sama kakek gue itu), n dia juga yang ngajarin gue buat cope with my own disabilities.

That’s why I consider him as my father. And losing him was just simply unthinkable, though I know it was inevitable.

Back to the story.

Waktu itu akhir tahun 2005, n gue lagi menjelang akhir kuliah gue. Skripsi baru mulai, n gue masih harus mengambil beberapa SKS mata kuliah lagi untuk memenuhi batas minimal SKS buat lulus. (SH di UnTar harus ngambil 152 SKS baru bisa lulus, dasar kampret! SKed aja cuman 140, masa SH harus 152?)

Well, pokoknya keadaan waktu itu hectic banget. Pas hari kakek gue meninggal, gue harus ngumpulin tugas di kampus. Jadilah gue harus prioritize. Kalo orang lain mungkin milih buat konsentrasi menyertai kepergian orang terkasih mereka, but not me.

Kakek gue bisa menghantui gue sampe bego kalo dia sampe tahu gue mengorbankan tugas kuliah gue demi nungguin dia. Bisa-bisa gue dia tabokin bolak balik Jakarta – Los Angeles.

Jadilah hari itu, dari rumah sakit setelah kakek gue baru aja meninggal, gue pulang ke rumah, ngeprint tugas, jalan ke kampus buat ngumpulin, n baru balik lagi ke rumah buat ngurusin acara tahlilan.

Temen gue, si Ibu Gajah, yang pengen ngelayat ke rumah gue cuman bisa tereak-tereak lewat telpon, “LO GILA YA! BOKAP (kakek) LO MENINGGAL KOK MASIH SEMPET NGURUS TUGAS!”

Well, gue diajarin sama kakek gue buat bertindak seperti itu. Dahulukan hal yang penting! Kalau semuanya penting, dahulukan hal yang memang cuman gue yang bisa kerjain.

sebagai cowok, gue lumayan keras menerapkan ‘no hugs no kisses policy’ di lingkungan pertemanan gue, n saat itu adalah pertama kali gue melanggar peraturan yang gue buat sendiri itu. (Cucut, Landak, Ibu Gajah, Sapi, Ibu Paus, thank you so much. I might never say this directly, but when I found you guys at my home that day, it meant the world to me.)Btw, hari itu adalah pertama kalinya gue berpelukan sama temen-temen gue.

Waktu itu itu gue mikir, bokap gue bisa gue titipin ke sodara-sodara gue yang lain, so gue harus mendahulukan ngumpulin tugas, yang emang gue sendiri yang harus ngerjain itu, gak bisa diwakilin ke orang lain kan?

Selanjutnya, semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Mulai dari tahlilan, sampe pemberangkatan ke Malang, trus pemakaman, semua terjadi seperti yang seharusnya terjadi.

Kecuali…

Begitu pemakaman selesai, gue langsung pamit sama orang tua (kandung) gue, dan sodara-sodara gue buat langsung balik ke Jakarta.

Huahahahaha!!!

Mereka cuman bisa melotot denger gue pamit. Gue gak kaget sih ngeliat mereka kaget begitu. Mereka tahunya kan gue adalah orang yang paling dekat sama kakek gue, kok bisa-bisanya gue meninggalkan kakek gue begitu saja setelah pemakaman selesai sementara sodara-sodara gue yang lain pontang-panting nyiapin acara tahlilan sampe hari ke-3.

Well, disinilah kita masuk ke inti cerita gue.

Gue harus kembali ke Jakarta karena keesokan harinya gue sudah janji sama temen gue buat bantuin ujian temen gue.

Temen gue itu adalah Febri.

Jangan bingung dulu. Buat orang yang gak tahu, pasti bingung, kok ujian dibantuin? Yup, Febri emang harus dibantu setiap dia ujian, karena dia buta. Gue gak tahu seberapa buta (I never asked her), tapi dia cukup buta sehingga ga mungkin ngerjain ujian tanpa ada yang bacain soal ujian. Apalagi kalo ujiannya itu open book, udah pasti dia perlu bantuan orang lain buat buka buku psikologi (yang mana sorry to say, naudzubilah najis tebelnya, udah gitu bahasa Inggris pula)

Gue gak ngomong sama sodara-sodara gue kalo itu alasan gue, gue cuman bilang kalo gue ada kerjaan di kampus yang ga bisa gue tinggal.

Jadilah gue langsung balik ke Jakarta, n besok paginya gue ke kampus buat bantuin ujian Febri, as if nothing happened.

Mungkin kelihatannya waktu itu gue yang bantuin Febri, tapi gue tahu yang sebenarnya.

Yang terbantu saat itu adalah GUE.

Gue perlu berada di suatu keadaan yang tidak mengingatkan gue tentang kakek gue.

Gue perlu orang yang bisa diajak bicara yang gak tahu apa-apa tentang keadaan gue, jadi dia gak bakal tanya-tanya ke gue tentang kakek gue.

Jadi sebenernya dan sejujurnya, gue yang memanfaatkan Febri waktu itu. Not the other way around.

Baru beberapa hari kemudian (kalo gak salah 4 hari kemudian), Febri SMS gue, bilang sori karena dia minta bantuan gue padahal gue lagi berkabung.

Gue jadi merasa bersalah karena bikin anak orang gak enak ati. Tapi waktu itu gue emang perlu banget melepaskan diri dari suasana berkabung, dan 2 jam bersama Febri di ruang ujian itu adalah tempat pertama dimana gue bisa konsentrasi melakukan sesuatu tanpa harus kuatir ada yang ngajak gue ngobrol tentang bokap gue.

Selain Febri, ada dua temen lagi yang bantuin gue melewati hari-hari sesudahnya. Landak n Winy the Pooh.

Landak emang paling enak buat diajak ngobrol ngalor-ngidul, n dia gak bakal masuk ke suatu tema pembicaraan kalo kita gak nunjukin tanda-tanda pengen ngobrolin tema itu. Jadi kalo kita pengen temen ngobrol yang gak akan ngebahas hal-hal yang gak pengen kita bahas, hubungin Landak. Dijamin puas. (Promosi sambil ngacir, karena Landak ngejar-ngejar pake bazzoka).

The second one is Winy the Pooh. The queen of CUEK. Nobody knows for sure, apakah dia itu bener-bener cuek, atau pura-pura cuek, tapi dia emang pembawaannya cuek. Masa dia tahu gue lagi berkabung malah diajakin cari kacamata pengganti kacamata dia yang hilang!

Hweleh…! Tapi gak papa juga. Emang itu yang gue mau. Karena dia orangnya seperti itu, makanya gue sengaja ngajakin dia jalan. Huahahaha… my loveliness ex-wife gue ini emang paling TOP.

Tapi begitulah. Pelajaran yang gue ambil dari Febri, Landak, n Winy the Pooh adalah, jangan meremehkan tindakan kita kepada orang lain, sekecil apapun tindakan kita itu. Karena seremeh-remehnya tindakan kita (minta tolong bantuin ujian, gak ngomongin hal yang gak sebaiknya diomongin padahal gemes pengen ngomongin, atau minta ditemenin nyari kacamata pengganti kacamata yang hilang), tindakan itu bisa berpengaruh sama kehidupan orang lain.

Karena mereka bertiga, gue bisa melewati minggu pertama setelah kematian bokap gue. And I was back to my track before I even realized it.

PS: thanks guys.


Responses

  1. Good day! I simply want to offer you a big thumbs up for your great information you’ve got right here on this post. I am returning to your site for more soon.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: