Oleh: ditogendut | 10 Juli 2008

Ultah PSUT

Hari ini, Sabtu 11 November 2006, gue menghadiri acara hari ultah Paduan Suara Universitas Tarumanagara (PSUT).

Gue jadi anggota aktif pasuan suara (PaDus) itu udah lebih dari 8 tahun (setia banget ga sih gue?), dan jujur aja gue kangen banget sama teman-teman di PSUT. Rada konyol juga sih, karena gue pisah mereka belum ada setengah tahun tapi udah kangen.

Buat kalian yang gak pernah gabung di PaDus, atau pernah gabung di PaDus Gereja, jangan bayangin PaDus universitas akan menghadirkan suasana sakral, keagamaan, alim, dll yang seharusnya identik dengan sebuah Padus. Keadaan di PSUT hampir ga ada bedanya sama kegiatan kemahasiswaan lainnya. Kita semua ketawa ketiwi bareng, melakukan hal-hal gila bersama-sama, dan hal-hal lain yang lumrah dikerjakan mahasiswa. Jadi jangan bayangin sekelompok anak alim yang berdiri tegak membusungkan dada dengan tangan terlipat rapi menyanyikan lagu-lagu gereja, tapi bayangin sekelompok anak muda biasa yang kumpul dan bareng-bareng menyanyikan lagu yang sama sededar untuk bersenang-senang.

Balik ke masalah acara ultah PSUT, satu sisi dari otak gue ga bisa berhenti merasa senang karena ada kesempatan kumpul sama temen-temen lama, tapi satu sisi lainnya otak gue gak bisa berhenti merongrong gue dengan perasaan gak enak. Perasaan yang bikin gue segen buat dateng ke acara itu. Gue udah berusaha mencari jawaban atau penjelasan dari perasaan itu tapi gak tau kenapa gue ga bisa nemuin penjelasannya. Segala macem penjelasan udah gue coba, tapi ga ada yang pas.

Akhirnya gue nekat dateng ke acara itu dengan mengabaikan perasaan gue sendiri.

Hasilnya… Devastating

Seperti yang gue perkirakan, gue jadi ngerasa melankolis. Bukan sedih, cuman melankolis yang sebegitu parahnya sampai-sampai gue ngerasa ga enak sampe detik ini.

Tapi paling ga, gue udah nemuin penjelasan dari perasaan gue itu.

Perasaan gue ga ngijinan gue dateng ke acara itu karena perasaan gue tahu lebih banyak tentang diri gue daripada otak gue. Emosi gue lebih mengenal karakter gue daripada logika gue sendiri.

Gue ngerasa kaya begini karena dalam acara itu gue berkesempatan buat menengok dan merasakan lagi bagaimana rasanya terlibat di masa lalu lagi. Masa lalu yang mungkin gak pernah bisa gue jalani lagi di masa depan.

Tapi gue ga kapok buat dateng ke acara seperti itu. Mungkin perasaan ini akan terus merongrong, tapi perasaan inilah yang membuat gue bisa jalan terus karena gue yakin kemanapun gue pergi, pasti gue bisa nemuin sosok teman-teman gue dari masa lalu di dalam diri teman-teman gue di masa depan.

God bless


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: