Oleh: ditogendut | 11 Juli 2008

Dosen-Dosen Tercinta

(ini postingan gue di blogger pada tanggal 21 Juni 2008 )

Sudah sebejibun dosen yang masuk dalam kehidupan gue. Hitung aja, gue 3 tahun di Fakultas Kedokteran, terus 5 tahun di Fakultas Hukum, n sekarang sudah 2 tahun gue kuliah di magister kenotariatan. Kebayang kan banyaknya?

Dari sekian banyak dosen, dengan penuh penyesalan dan berat hati gue nyatakan bahwa dosen-dosen gue di Notariat adalah dosen-dosen yang PALING ANEHHH dari segala jenis dosen yang pernah gue temui.

Well, gue ngerti sih kalo dibanding magister-magister lain, Notariat tuh salah satu magister yang lulusannya diharapkan sudah langsung siap dipakai (dipakai buat apa? Hehehe…). Sementara magister-magister lain kan emang digeber di teori buat siap-siap kalo pengen ngambil S3.

Karena sifatnya harus siap pakai n siap praktek (praktek apa? Wahaahaha…) itulah, kita semua dibikin gila segila-gilanya biar ntar kalo ketemu klien-klien yang beraneka ragam (mulai dari yang paling jinak sampe yang paling edan) kita sudah nggak kaget lagi, n bisa langsung senyum sambil bilang “Kembali ke kantor saya 2 hari lagi, saya usahakan aktanya sudah siap ditandatangani”. (Senyum sih wajib, tapi dalam hati udah heboh ga karuan karena aktanya ribet, hwehwehwehwe…)

Tapi meskipun kita harus dipersiapkan menjadi Notaris yang profesional dan berkualitas prima HARUS YA DI PROSES PENDIDIKANNYA KITA SEMUA DIBIKIN GILA!!??

Grrr… Sabar… sabar… sabar…

Udah gitu kalo cuman beberapa di antara para dosen yang bersikap antik, sih oke lah. Anggap aja itu anomali. Tapi kalo mayoritas??? Namanya apa coba??????

Salah satu yang agak normal adalah Mr. L (gue pake gelar mister, karena sarjana hukum memang seharusnya dipanggil meester, hehehe…). Dia sih lumayan enak kalo ngajar. Ngomongnya juga jelas. Paling yang agak masalah, ilmu yang dia ajar tuh agak ngawang-ngawang jadi susah nangkepnya. Tapi bahkan dia yang ‘agak’ normal aja ternyata punya ke-eror-an tersendiri.

Ke-eror-an itu mulai kelihatan pada suatu hari sabtu pagi yang indah. Di pagi itu seharusnya dia ngajar, dan kita sebagai mahasiswa dan mahasiswi yang baik sudah menunggu di kelas (sambil ngobrol tapinya. Hehehe… teuteup…)

Tunggu punya tunggu, kok nggak dateng-dateng si bapak satu ini. Karena mayoritas temen-temen gue udah pada bapak-bapak dan ibu-ibu, mereka mulai parno-parno khas orang-orang seumuran itu deh. Mulai ada yang bilang “Jangan-jangan kecelakaan?”, atau ada juga yang bilang “Masa sih dia kesiangan?”, bahkan ada yang dengan gebleknya bilang “Halah, paling masih kelonan sama istri mudanya” (buat yang terakhir ini langsung dipelototin sama temen-temen yang sudah ibu-ibu. Tahu kan kalo ibu-ibu gitu paling sensitif kalo denger kata ‘istri muda’ hehehe…)

Akhirnya gue sebagai ketua angkatan 2006 magister kenotariatan universitas indonesia yang baik dan berbakti pada almamater (hoeeekkk…) berinisiatif buat nelpon tuh dosen.

Setelah deg-degan menunggu si bapak L mengangkat telepon (dia orang Batak kowek men, kalo ngomong volumenya itu lho. Krakatau bledug juga kalah kenceng kali), akhirnya terdengarlah suara si bapak.

Mr L: Halo (dengan volume yang bikin ampli merasa gak punya harga diri)
Gue: Selamat pagi Mr. L. Ini Dito mister. Mister pagi ini memberi kuliah atau tidak ya Mister?
Mr.L: HAH! (Dia yang bertereak kaget, tapi gue yang hampir tuli dengernya)
Gue: Kenapa Mister?
Mr. L: Memangnya saya ada kelas hari ini?
*gubrak*
Gue: Iya Mister, Mister seharusnya memberi kuliah sekarang.
Mr. L: Wah, saya lupa kalau begitu. Saya sekarang sedang berlibur di Medan
*gubrak gubrak*
Mr. L: Bagaimana kalau begini saja.
*gue mendengarkan dengan seksama*
Mr. L: Kamu saja yang mengajar menggantikan saya. Bilang saja kamu saya jadikan asisten dosen saya untuk hari ini. Nanti saya buatkan surat penunjukannya kalau saya sudah kembali ke Jakarta.
*gubrak gubrak gubrak*

ASISTEN DOSEN DARI MANA!? YANG ADA GUE DIKEMPESIN RAME-RAME SAMA TEMEN-TEMEN GUE. LAGIAN MANA ADA SEJARAHNYA KOK ASISTEN DOSEN BELUM LULUS DARI KELAS YANG DIASISTENIN!!!

Lepas dari itu, intinya ternyata dia liburan nggak ngomong-ngomong karena lupa. Akhirnya sekelas BeTe massal karena sia-sia sudah dateng pagi-pagi. Sebagai pelampiasan, kitapun mem-brutal-i kantin kampus. Hehehe… pokoknya tiada tahu goreng yang selamat di kantin itu pada pagi hari tersebut.

Keanehan si Mr. L belum selesai sampai situ, karena ternyata itu baru awalnya. Puncak keanehannya muncul pada waktu kita lagi ujian.

Pada kuliah terakhir, dia dengan semangat mengumumkan “Nanti waktu ujian, jangan lupa jawaban kalian dipakaikan stabilo! Segala poin-poin penting jawaban kalian harus di stabilo.”

Sekelas cuman bengong…

Gue paling bengong…

Bahkan dekan-pun bengong…

DARI JAMAN NABI ADAM SAMPE NTAR KIAMAT, BARU DENGER GUE ADA UJIAN DITULIS TANGAN YANG HARUS DIPAKAIKAN STABILO!!!

Kita ujian kan pake kertas folio bergaris yang tipis itu, kalo dipakein stabilo yang ada tembus kemana-mana kali.

Tapi yah sudah lah. Kita ikutin aja kemauan dia. Toh cuman stabilo doang, apa susahnya sih? Ternyata keanehan dia belum selesai sampai situ, karena dia melanjutkan lagi:

“Stabilo-nya jangan hanya satu warna. Saya ingin warna-warni minimal tiga warna. Semakin berwarna, semakin baik”

Sekelas hanya bisa speechless…

MANA ADA SEJARAHNYA UJIAN TERTULIS KOK WARNA-WARNI???!!! LO KIRA KERTAS UJIAN ITU PELANGI APA!!!???

SEKALIAN AJA KITA DISURUH UJIAN PAKE CRAYON, PENSIL WARNA, N SPIDOL, BIAR BISA SAINGAN SAMA ANAK TK!!!

Akhirnya terjadilah salah satu ujian terajaib yang pernah gue jalani. Semua orang bawa stabilo warna-warni, bahkan ada beberapa ibu-ibu yang karena lupa beli stabilo di hari ujian terpaksa diam-diam menculik crayon punya anak-anaknya yang masih TK. Jadilah hari itu di fakultas hukum universitas indonesia terdapat sebuah kelas yang kelihatannya sedang menunjukkan RAINBOW POWER.

Pusing… pusing…

Ada lagi yang bikin gubrak.

Sebut saja nama si dosen tercinta itu adalah Prof W.

Dia juga baik. Orangnya tenang, murah senyum, berbudi bahasa halus, dll. Tapi… kalo ngajar suka belok ke arah yang gak jelas.

Suatu malam yang syahdu (iya, malam, bener-bener malam, jam 7 sampe jam 9 malam), dia sedang mengajar kita dengan santai.

Pas lagi enak-enak ngajar gitu:

“Blablabla… perjanjian kawin… blablabla… didaftarkan… blablabla… IKAN ACAR KUNING… blablabla… pembuktiannya dengan… blablabla…”

Sekelas langsung serentak berhenti mencatat, mengangkat wajah dengan perlahan-lahan, dan memasang mimik wajah yang tak lain tak bukan menyatakan, “WHAT THE F**K?”

Gimana nggak bingung kalo di tengah-tengah ngomongin perjanjian kawin, tiba-tiba muncul istilah IKAN ACAR KUNING?

Pengen nanya… takut dikira tidak menghormati (ya iya lah, masa lagi kuliah tiba-tiba nanya tentang masakan?), nggak nanya… jadinya blongo (blo’on + dongo).

Akhirnya semua memilih untuk diam dan kembali mencatat.

Sampai sekarang, perkataan itu tetap menjadi misteri terbesar yang pernah dialami mahasiswa/wi notariat UI angkatan 2006. Biarlah hal itu tetap menjadi misteri untuk selamanya. Hwehehehe…

So… itu baru dua dari sekian banyak dosen yang aneh2.

Gue bukan bikin entry ini karena tidak menghormati mereka. Mereka tetep dosen-dosen gue yang gue sayangi dan hormati. Ilmu yang mereka ajarin ke gue bener-bener priceless. Tapi gue juga harus mengakui kalo mereka (saking pinternya sehingga) mempunyai keanehan-keanehan mereka masing-masing.

Well, besok gue sambung lagi tentang dosen-dosen tersayang ini. Sekarang gue mau masak gule dulu, karena nenek gue ngidam makan gule buatan gue (padahal rasanya bisa bikin zombie-zombie jadi kabur gitu, tapi kok bisa diidamkan ya?).

See you tomorrow.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: