Oleh: ditogendut | 11 Juli 2008

Penjelasanku

(Ini posting gue di blogger pada tanggal 18 Juni 2008 )

Sudah sering temen-temen gue nanya ke gue, terutama setelah si Cucut tunangan n rencana mau nikah di bulan Oktober nanti, “Dit, elo kenapa nggak nyuruh Edna buat cepetan balik ke Indonesia biar kalian juga bisa cepetan nikah?

Jujur aja, gue kadang lupa kenapa gue nggak mau maksa dia, jadi sering kali jawaban gue cuman, “Gue nggak tega maksain dia buat menyerahkan impian dia. Gue nggak mau menanggung beban kalo di masa depan dia menyesali cita-citanya yang nggak tercapai karena gue minta dia balik ke Indonesia.

Sebenernya itu bukan jawaban yang bohong. Itu juga salah satu alasan gue, tapi itu bukan alasan utama gue.

Alasan utama gue, kalo mau dirangkum jadi satu kalimat singkat adalah, “Gue nggak mau menyesal.

Gue bukan takut salah pilih atau apa, tapi…

Hhh…

Mungkin lebih enak kalo pake contoh ya?

Begini deh, gue pake contoh yang gue tonton di film Saat Gladiol Bersemi, film yang tayang di DAAI TV.

Well, di film itu ada sepasang suami istri yang sudah tua. Si suami sudah sakit-sakitan n hampir mati.

Sejak muda, si suami itu paling suka makan rebung (bambu muda) yang dimasak sama istrinya. Tapi sayangnya, di penghujung hidupnya itu si suami justru dilarang makan rebung sama dokter.

Di satu adegan, si suami bilang ke istrinya, “aku tidak akan melupakan rasa rebung yang kau masak untukku.

Dan si istri menjawab sambil hampir nangis2 gitu, “Kamu harus hidup lebih lama, aku akan memasakkan rebung sebanyak apapun yang kamu mau.

Gue ngerti perasaan si istri itu. Pada saat dia bilang begitu pasti dia teringat dengan saat-saat di masa lalu dimana dia pernah menolak memasakkan rebung untuk suaminya itu.

Sekarang bayangin aja, si istri cuman inget2 tentang saat2 dia menolak membuatkan masakan rebung aja udah nyesek begitu. Gimana ntar di masa depan gue, ternyata gue berumur lebih panjang dari Edna, trus on her death bed gue inget satu tindakan gue yang meminta dia meninggalkan cita-citanya dan balik ke Indonesia supaya dia bisa jadi istri gue.

BISA-BISA DIA YANG SEKARAT TAPI GUE YANG MATI GARA-GARA NYESEK!!!

Gue nggak apa-apa kalo keinginan gue yang nggak terpenuhi, tapi gue lebih baik dipenggal daripada harus ngerasain lagi penyesalan karena nggak bisa membantu orang yang gue sayang mendapatkan apa yang mereka mau. Meskipun gue nggak bisa membantu secara langsung, tapi paling nggak gue NGGAK MAU JADI PENGHALANG!!!

Lebih baik gue terima kenyataan kalo gue nggak bisa memeluk Edna daripada di masa depan gue harus tersiksa dengan rasa penyesalan karena gue sadar bahwa gue udah menyebabkan dia nggak bisa mengejar cita-cita dia.

Hhh… begitulah…

Gue harap temen-temen gue yang pengen tahu jawaban gue, udah bisa puas dengan entry kali ini. Heeeehhh…

Sekali-sekali bikin entry yang agak serius nggak apa-apa kan? Gue usahakan di entry selanjutnya gue akan menulis tentang sesuatu yang lebih ringan, hehehe…

Motto gue hari ini:
DISTANCE IS INSIGNIFICANT IN THE PRESENCE OF LOVE, amen…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: