Oleh: ditogendut | 18 Juli 2008

Teman di Perantauan

Duh, judulnya gitu banget ya? Hehehe…

Tapi emang begitulah yang pengen gue bahas kali ini.

Salah satu temen gue yang gue, si Anjing Langit, sedang dalam perantauan, tepatnya pulau dewara Bali. Hahaha…

Baru juga beberapa bulan di sana, dia sudah dapet banyak banget petualangan. Mulai dari dia pertama dateng di sana, bener-bener sendirian, cuman berpegangan pada instruksi yang diberikan oleh kantornya. Trus memulai kehidupan sebagai asisten ekspatriat.

Ternyata itu tidak tahan lama karena boss-nya punya personality yang aneh. Menurut ceritanya, boss-nya itu hanya ahli berteori tapi tidak ahli dalam hal mengimplementasikan strategi-strategi manajemen.

Selain itu, si Anjing Langit yang selama berkerja di kantor itu tinggal di rumah si boss, juga dikekang, hampir sama sekali nggak boleh pergi-pergi, dan juga ada ketentuan tentang jam malam yang terlalu ketat.

Yang membuat lebih parah lagi, si boss itu suka mencla-mencle. Kadang ngomong begini, trus gak berapa lama omongannya berubah begitu saja. Apalagi sebagai ekspatriat, dia nggak menghargai kebudayaan setempat, yang mana kalau di Bali kan yang namanya adat dan kebudayaan mewarnai setiap kegiatan sehari-hari.

Dan yang paling parah adalah, si boss suka menindas dan ngerjain bawahannya. Sukur kalau cuman kepada bawahan, kesukaannya ngerjain dan menindas orang itu juga dia lakukan kepada orang lain yang bukan bawahannya,seperti para kurir dari kantor lain, jadi membuat malu para bawahan.

Dengan berbagai faktor itulah, akhirnya si Anjing Langit memutuskan untuk resign dari kantor itu, padahal dia belum genap berkerja selama 1 bulan di kantor itu.

Untungnya, begitu dia berniat untuk mengundurkan diri, dia kebetulan mendapat tawaran mengajar di sekolah internasional yang ada di Bali. Kebetulan si Anjing Langit emang ahli bahasa Mandarin, jadi dia bisa diterima dengan mudah di sekolah itu sebagai pengajar.

Selain permasalahan profesional, Anjing Langit juga mendapat masalah personal.

Begini ceritanya.

Beberapa bulan sebelum Anjing Langit pergi ke Bali untuk berkerja dia pernah ke sana untuk berlibur. Dan saat liburan itulah dia bertemu dengan T yang saat itu berperan sebagai gaet si Anjing Langit dan rombongan selama di Bali.

Bahkan setelah Anjing Langit balik ke Jakarta, si T masing sering menghubungi Anjing Langit melalui SMS, dan merekapun jadi dekat satu sama lain.

Kita, teme-temen si Anjing Langit, mulai menebak-nebak bahwa si T ada feeling ke Anjing Langit.

Sebegitu dekatnya si Anjing Langit dengan si T, dia berangkat ke Bali dengan, sedikit banyak, berharap bahwa T akan membantu dia beradaptasi di Bali.

Ternyata, nasib berkata lain.

Si T itu ternyata bener-bener memenuhi kata pepatah “jauh bau bunga, dekat bau tai”, karena selama Anjing Langit di Bali, si T itu justru menjaga jarak dan bahkan menjauh dari Anjing Langit. Sama sekali tidak menyisakan kedekatan yang pernah ada di antara mereka saat hubungan mereka masih terbatas pada SMS.

Yang lucu, saat Anjing Langit masih di Jakarta, si T nggak pernah cerita kalau dia punya cewek ke Anjing Langit, tapi begitu si Anjing Langit pindah ke Bali, dia tiba-tiba cerita kalau dia sudah lama punya cewek.

Hahaha… untungnya Anjing Langit bukan jenis cewek yang mudah kepincut kepada seorang cowok hanya karena dibaik-baikin cowok itu. Jadinya malah lucu, karena Anjing Langit jadi bertanya-tanya sendiri, apa maksudnya pemberitahuan yang sangat mendadak itu? Apakah si T selama ini menganggap Anjing Langit sebagai selingkuhan? Apakah si T takut kalo tiba-tiba Anjing Langit menodong si T untuk jadian dan berkomitmen kepada Anjing Langit? Gitu?

Mana mungkin Anjing Langit bisa begitu? Manalah si Anjing Langit mau digituin?

Tapi bukan Anjing Langit namanya kalau down cuma karena masalah begitu.

Dengan mudah ia mendapatkan teman-teman baru di sekolah tempat dia mengajar, yang mana teman-teman barunya itu jauh lebih baik dan bahkan mau membantu Anjing Langit yang notabene adalah pendatang baru di lingkungan itu.

Well, sekali lagi kata pepatah muncul, “Patah tumbuh, hilang berganti”.

Memang sih, Bali bukan tempat yang amat sangat jauh sekali, tapi yang perlu dipertimbankan adalah bahwa si Anjing Langit adalah seorang perempuan single yang belum pernah hidup di suatu tempat dimana dia tidak punya saudara yang dia kenal. Jadi petualangan dia di bali itu cukup berharga untuk dia.

Dan juga, petualangan dan pengalaman si Anjing Langit juga berharga buat kita, para teman-temannya. Karena kita semua memang berada di usia yang tidak se-naif waktu kita masih berusia belasan, tapi pada saat yang sama, masih banyak hal-hal di dunia ini yang belum kita ketahui.

Yah semoga aja apa yang terjadi terhadap si Anjing Langit tidak terjadi kepada teman-temannya, dan kami para teman-temannya bisa belajar dari pengalaman si Anjing Langit.

Btw, pasti ada yang bertanya-tanya kenapa gue tiba-tiba ngomongin si Anjing Langit. Hahahaha… sebabnya si gampang aja. Gue baru aja selesai ditelpon sama si Anjing Langit yang menceritakan petualangan dia di sana.

Yah, kita tunggu saja bagaimana kelanjutan petualangan si Anjing Langit.

PS: Si Anjing Langit punyat gelar lain di antara kita, teman-temannya, yaitu si Napas Naga Sakti Pelebur Sukma. Hahaha… bukannya napas dia bau atau apa, cuman aja segala apa yang dia katakan pasti terjadi (yang mana biasanya buruk-buruk) padahal dia nggak pernah bermaksud begitu. Mwahaha… horror banget ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: