Oleh: ditogendut | 19 Juli 2008

The Time When I Was Speechless

Kemaren malem gue pergi ke FX untuk menghadiri undangan dari si Ibu Gajah yang telah mengundang kami, teman-temannya selama di PaDus UnTar, untuk mengadakan acara kumpul-kumpul rutin.

Well, gue bilang rutin karena emang si Ibu Gajah menginginkan agara acara kumpul-kumpul ini diadakan rutin sebulan sekali, tapi kita hidup di dunia yang tidak sempurna , jadi acara kumpul-kumpul kita itu sering kali terlewati beberapa bulan baru bisa terjadi lagi. Itupun yang hadir seringnya nggak lengkap. Well, mau gimana? Namanya juga udah pada sibuk semua, Ibu Paus jadi Dokter, Laler kerja kantoran, Cucut ribet sama bengkel, Sapi ribet sama freelance-nya dia, Landak ribet dengan kehidupan sosialnya (haduh, kalo acara harian dia ditulis di agenda, kayanya tuh agenda bisa langsung full dalam waktu seminggu), Tai ribet sama kerjaan dia di hotel, Anjing Langit ada di Bali, Nyamuk ribet sama keponakan-keponakannya, dan gue sibuk… gue sibuk apa ya? Sibuk jadi Burung Hantu?  Hehehe…

Yah meskipun ternyata tidak rutin, yang hadir tidak lengkap, tapi paling nggak kan acaranya tetap berjalan. The show must go on!

Gue nggak akan membahas tentang acaranya. Gue yakin si Ibu Gajah mungkin lebih baik dalam menjelaskan acara itu karena dia bawa kamera, jadi postingan dia tentang acara kemarin pasti bisa lebih lengkap dengan foto-fotonya.

Jadi gue serahkan tanggung jawab menceritakan acara kemarin kepada sang Ibu Gajah, the baroness of narcism and incessant photography. Kenapa dia cuman gue kasih gelar baroness? Karena diantara teman-teman lainnya, dia bukan yang paling parah narsis-nya dan doyan fotografi-nya, jadi nggak adil kalo dia dinobatkan jadi queen. Hehehe…

Yang kepengen gue bahas adalah kejadian setelah acara kumpul-kumpul itu selesai.

Setelah selesai makan-makan, ngobrol-ngobrol, n merayakan ulang tahun Cucut (lengkap dengan lilin yang tidak bisa mati), akhirnya acara kumpul-kumpul yang cuman berlangsung 2 jam kurang itupun berakhir.

Gue udah harus pulang, sementara Sapi dan Laler berkeras ingin nyoba main plorotan (apa sih bahasa Indonesia yang baik untuk istilah ‘plorotan’?) yang ada FX yang tingginya dua puluh sekian meter yang dimulai dari lantai 7 dan berkahir di lantai 1.

Well, kita berpisah di lift, karena gue mau langsung ke loby sementara mereka semua mau ke bawah lagi untuk mengurus penukaran bon makan tadi menjadi tiket main plorotan itu tadi.

Jadilah gue sendirian di loby menunggu supir gue. Hiks… dunia serasa sunyi dan sepi dalam kesendirian (halah…).

Sebenernya gue nggak sendirian sih. Ada juga orang-orang lainnya yang juga nunggu mobil. Tapi gue kan nggak kenal, jadilah gue cuman diem aja nunggu mobil gue sambil menikmati angin malam (sayangnya angin malam Jakarta, jadi aromanya aroma knalpot, hegh… )

Pas lagi enak-enak bengong gitu, tiba-tiba di sudut mata gue, gue menangkap gerakan-gerakan aneh dari sepasang manusia yang agak tidak umum ditemui di sebuah loby mall.

Pasangan cowok cewek itu terdiri dari ras yang berbeda (tanpa ada maksud untuk main ras ya), yang cowok orang bule, sedangkan yang cewek orang pribumi.

Yang menarik perhatian gue adalah, mereka berdua sedang berpelukan, seolah-olah mereka sedang sedih karena akan berpisah. Pokoknya nuansa yang ada di mereka adalah nuansa airport. Tau kan nuansa airport? Nuansa yang penuh dengan perpisahan, jadi lo mau peluk-pelukan kek, mau cium-ciuman kek, hal itu udah biasa di airport.

Lha ini nuansa itu kok malah ada di loby mall?

Jangan bilang mereka sedih karena sudah waktunya pulang, jadi mereka seding karena harus berpisah dengan mall itu dan tidak bisa nongkrong n belanja lagi… sampe keesokan harinya. Kalo bener gitu sih, berarti mereka berdua emang maniak mall.

Tapi trus di kepala gue muncul teori lain. Mungkin yang cowok udah harus pulang ke negaranya lagi, jadi mereka harus berpisah makanya mereka sedih dan berpelukan.

Omong-omong, jangan bayangin mereka berpelukan cuman sebentar ya. Kalo cuman bentar, ngapain juga gue perhatiin? Mereka pelukan lama banget men, makanya gue sampe bingung sendiri.

Mereka terus berpelukan sementara gue udah mulai ngerasa nggak nyaman, karena ini kan tempat umum, dan gue bener-bener nggak menyarankan siapapun untuk berpelukan selama itu di depan umum, apalagi di loby mall.

Gimana kalo Ibu Gajah ngeliat? Yang ada langsung dibikin novel tuh. Apalagi kalo si Sapi yang ngeliat, dia bisa langsung berubah jadi fotografer keliling yang motret-motretin pasangan itu. Hahaha…

Tapi pikiran gue belum sempat selesai meregistrasikan pandangan peluk-pelukan itu, tiba-tiba gue mendengar suara-suara yang agak-agak aneh untuk terdengar di setting loby mall seperti itu.

Suara-suara apakah itu?

Suara mendesah-desah…

Hihihi…

Gue langsung nengok. Kalo tadi gue nengok ke kiri gara-gara pasangan berpelukan itu (yang mana masih aja mereka berpelukan), sekarang gue nengok ke kanan untuk menemukan pasangan yang sepertinya sedang… aduh… gimana ya ngomongnya…

Kalo kata ini gue tulis, bisa-bisa gue disensor lagi… tapi udah lah cuek aja.

Pasangan di sebelah kanan gue itu sedang horny…

Udah? Puas? Lanjut…

Kenapa gue bisa bilang begitu?

Karena pasangan cowok cewek yang kedua itu sambil nunggu mobil, mereka berangkulan, berpelukan, saling menggerayangi, dan tindakan-tindakan lainnya yang benar-benar menunjukkan kalo mereka berdua udah nggak sabar untuk cepetan balik ke kamar tidur mereka n melakukan… yah… melakukan ‘itu’ lah…

Bahkan yang cewek udah sempat mencium-ciumi leher yang cowok, sampe si cowok itu merem melek sendiri n mendesah-desah gak jelas.

Pokoknya detik itu gue bener-bener nggak tahu harus bereaksi gimana. Mau ngeliatin, nggak sopan. Mau nggak ngeliatin, tapi keliatan. Gimana dong?

Yah gue cuman pasrah aja lah. Diam dan menunggu mobil gue (yang nggak dateng-dateng grrr… )

Nah, sambil menunggu dengan perasaan serba salah itu, gue baru menyadari sesuatu hal lain yang aneh juga.

Dari semua orang yang ada loby tersebut pada saat itu, cuman gue yang kelihatannya nggak nyaman dengan dua pasangan itu (terutaman pasangan yang kedua sih…).

Orang-orang lain di loby itu semuanya bersikap biasa aja men! Yang sendirian juga ya cuman diem aja, nggak celingak-celinguk kaya gue. Yang punya temen juga ngobrol biasa aja sama temennya.

Gue sampe bingung sendiri.

Ini gue yang kelewat kuno, atau orang-orang lain yang emang udah pada bejad jadinya ada adegan-adegan seperti itu mereka semua cuman biasa aja.

Gue menganggap diri gue sebagai seseorang yang liberal (atau paling nggak gue berusaha untuk begitu), tapi ternyata gue masih cukup konservatif untuk bingung sendiri ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan di tempat umum.

Well, gue nggak akan melanggar hak mereka. Menurut prinsip gue, mereka berhak untuk melakukan apapun yang ingin mereka lakukan, dimanapun mereka ingin melakukannya, selama nggak mengganggu privasi gue sendiri.

Jadilah gue cuman bisa menahan supaya muka gue nggak merah menyala karena suara desahan-desahan tuh cowok cewek masih terdengar meskipun gue berusaha untuk mencueki mereka. Hhh…

Untungnya mobil gue akhirnya dateng, n gue langsung buru-buru masuk untuk ngacir dari tempat itu.

Ampun deh, ini Indonesia yang seharusnya masih kolot, tapi ternyata udah ada tempat dimana orang bisa seenaknya gitu. Gimana di negara yang udah bebas banget seperti Belanda ya? Well, waktu gue jalan-jalan ke Belanda emang gue nemuin sih sex shop gitu, n waktu itu gue juga nggak sengaja ikut naik ferry yang ternyata ada pertunjukan kabaret topless-nya. Tapi seinget gue, gue nggak nemuin orang saling ber… ber… ber… argh! Ber ‘itu’ di depan umum lah pokoknya.

Sampe sekarang gue cuman bisa menghela napas tiap inget-inget kejadian kemaren. Hhh… gue nggak berani ngebayangin gimana jadinya 20 tahun lagi ya?Jangan-jangan udah lebih bebas lagi. Oh no…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: