Oleh: ditogendut | 28 Juli 2008

The Day Of Reckoning Has Come

So… it has come to this. Probably the last day I will ever spend as a student has come.

Seharusnya gue merasa senang, kalo perlu lari keluar rumah nari muter-muter di tengah jalan sambil teriak-teriak “Oh glorious day, oh happy day, I am no longer a student!“. Hmph… I wish.

Nggak mungkin lah gue berbahagia di hari ini. Hari ini salah satu bab dalam kehidupan gue akan ditutup. Semuanya dalam kehidupan gue yang berhubungan dengan pendidikan terinstitusi mungkin akan berkahir di hari ini. Gimana gue bisa seneng?

Gue udah melewati berbagai tahap dalam kehidupan, n jangan salahin gue kalo dalam usia gue yang udah segini ini gue memandang tahap-tahap yang gue lewati bukan lagi sebagai ‘naik level’ tapi lebih ‘semakin mendekati akhir perjalanan’.

Kalo dipikir-pikir, tahapan-tahapan besar yang harus gue lewati tinggal sedikit kan? Kalau diasumsikan bahwa hidup gue akan berjalan kurang lebih sama seperti kehidupan orang kebanyakan, paling tahapan yang harus gue lewatin cuman tinggal kerja, nikah, punya anak, menikahkan anak, punya cucu, trus mati deh. Berapa langkah tuh? 6 langkah lagi men!

Hahaha…

Hidup ini memang singkat ya? Kita menjalaninya seperti lama, tapi kalo diringkas ternyata kehidupan manusia nggak sampai satu kalimat.

Emang sih, nggak bisa dibilang seringkas itu juga. Dalam setiap tahap pasti ada hal-hal yang berbeda yang akan dialami seseorang di setiap tahapan, tapi hal-hal yang berbeda itu kan insubstabsial, bukan inti dari keadaan yang dilewati.

Contoh: menikah. Ada orang yang nikahnya damai-damai aja dengan direstui para orang tua. Ada yang antara akad nikah dan resepsi terpisah jangka waktu yang lama karena terlalu sibuk, ada yang nikahnya sampe mengancam-ancam orang tua, ada yang sampe kawin lari, dan bahkan nggak heran kalo ada yang seperi Romeo n Juliet yang akhirnya malah mati bareng.

Mungkin untuk beberapa orang akan merasa kalo gue telah melupakan satu langkah lagi. Langkah yang jenisnya cuman 1 tapi bisa kita alami beberapa kali dalam kehidupan. Yaitu menguburkan orang-orang yang kita kasihi. Orang tua, anak, ataupun pasangan kita. Kemungkinan bahwa kita akan menyaksikan kematian mereka dan menguburkan mereka memang cukup besar bukan?

“Orang tua tidak seharusnya menguburkan anaknya”, gue lupa pernah denger itu dimana, tapi gue setuju sepenuhnya sama kalimat itu. Sayangnya, kita nggak pernah tahu kapan garis nasib orang-orang terkasih kita akan terputus.

Tahap yang satu ini terlalu menyedihkan, dan karena terpisah dari hidup (bukan kehidupan) kita, makanya tahap ini gue pisah dari yang lain.

Hhh… kenapa gue malah ngomongin ini ya? Tanda-tanda kalo gue emang bener-bener udah stress kali ya? Yah nggak apa-apa lah. Daripada stress disimpen sendiri malah jadinya stroke, bisa lebih repot lagi. Hahaha…

Kembali ke topik awal, hari ini gue mungkin akan menutup salah satu bab dalam kehidupan, yaitu bab tentang kehidupan sebagai murid. Proses belajar memang akan terus berlanjut sampe gue mati, tapi sekarang yang gue panggil guru sudah bukan manusia lagi, melainkan sang waktu.

Time is the best and worst teacher there is. It’s the best because it teach us through experience, and it’s also the worst because the mortality rate of the students is 100%.”

Hahaha…


Responses

  1. “Orang tua tidak seharusnya menguburkan anaknya”

    kalimat itu ada di filem Lord Of The Ring waktu raja Theoden of Rohan harus nguburin anaknya yg mati, si Theodred..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: