Oleh: ditogendut | 27 Agustus 2008

Papa

Gue udah menunda-nunda menuliskan entry ini. Mungkin karena di dalam hati gue belum bisa benar-benar menerima kenyataan kalau bokap gue sudah nggak ada di dunia ini lagi.

Bokap gue, yang biasa gue panggil Papa, meninggal tanggal 16 Agustus 2008 karena serangan jantung mendadak. Sebelumnya bokap sama sekali nggak punya keluhan mengenai jantung. Penyakitnya yang agak parah cuman penyakit gula dan itupun sudah dapat dikendalikan dengan obat-obatan.

Tapi memang kelahiran dan kematian adalah hak prerogatif Allah SWT, ternyata bokap malah pergi karena penyakit yang nggak pernah dimilikinya. Dia pergi tanpa keluhan apapun, hanya merasa lemah dan berkeringat dingin. Ketika sudah duduk di dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit, ternyata dia langsung meninggal sesaat setelah memasang seat belt.

Dari gue masih bayi, gue hidup dengan kakek dan nenek pihak nyokap yang tinggal di Jakarta, sementara bokap dan nyokap gue tinggal di Surabaya. Karena itulah, waktu yang gue habiskan di rumah orang tua gue sendiri bisa dihitung dengan jari. Dulu pernah iseng-iseng gue hitung, kalau ditotal seluruh waktu yang gue habiskan serumah dengan orang tua gue sendiri seluruhnya tidak mencapai 2 tahun.

Gue serumah dengan orang tua gue paling cuman 2 atau 3 minggu setiap tahunnya, yaitu pada saat liburan kenaikan kelas. 3 minggu dikali 27 tahun, totalnya 71 minggu. Setahun berisi 52 minggu, jadi seluruhnya hanya 1 tahun 4 bulan dan 3 minggu.

1 tahun 4 bulan dan 3 minggu adalah total waktu yang gue bisa habiskan dengan bokap gue. Sangat pendek sekali.

Gue sejak kecil sudah pasrah bahwa gue punya tugas menemani kakek dan nenek gue di Jakarta. Pikiran itu adalah satu-satunya hal yang membuat gue selalu berusaha ikhlas saat liburan gue di Surabaya selesai dan gue harus kembali ke Jakarta.

Kebencian gue dengan pagi hari mungkin berawal dari sini. Setiap gue harus kembali ke Jakarta, gue pasti pakai pesawat pagi, yang artinya harus bangun subuh dan siap-siap untuk berangkat. Setiap kali gue bertemu dengan pagi, memori gue selalu memainkan kembali memori tentang betapa sakitnya perasaan gue sebagai seorang anak kecil yang harus menghadapi perjalanan pulang ke Jakarta, dipisahkan dari orang tua gue sendiri selama setahun penuh sebelum akhirnya dapat bertemu lagi dengan mereka.

Mungkin karena sering dipisahkan secara paksa begitu, gue selalu memperlakukan setiap perpisahan gue dengan orang tua gue sebagai perpisahan yang terakhir. Ciuman dan pelukan terakhir sebelum naik pesawat gue anggap sebagai ciuman dan pelukan terakhir dari orang tua gue.

Setiap detik bersama adalah detik yang berharga, mungkin itulah yang membuat gue bisa kuat menerima kabar mendadak bahwa bokap gue sudah meninggal.

Tapi…

Gue kepengen bisa menangis…

Gue nggak bisa nangis…

Proses acceptance gue berhenti di awal tanpa pernah dimulai. Gue nggak merasakan kemarahan, kecamasan, menawar-nawar, kesedihan, dan penerimaan. Semua berhenti, dan tidak dimulai sampai sekarang.

Kosong…

Bokap gue adalah cermin diri gue. Gue mungkin jarang serumah dengan dia, dia nggak pernah mendidik gue (pendidikan gue dapat dari kakek gue), tapi entah kenapa sifat gue adalah sifat bokap gue.

Arachnophobia, doyan begadang, demen lagu klasik, pembawaan tenang dan humoris, tidak bisa marah, logis, nggak bisa hidup lepas dari komputer, kecenderungan psikoafektif (meski tidak sepenuhnya), ketertarikan kepada ilmu forensik (meskipun akhirnya nggak ada di antara kita berdua yang mendalami ilmu itu), itu semua adalah ciri-ciri gue, dan ternyata itu semua adalah ciri-ciri bokap gue.

Memang genetika nggak bisa dipungkiri. Dia nggak pernah mendidik gue, gue nggak pernah meniru dia, tapi entah bagaimana gue bisa punya sifat seperti dia.

Tapi sekarang bokap sudah nggak ada. Sekarang setiap kali gue menemukan sisi baru dalam diri gue sendiri, gue cuman bisa bertanya-tanya sendiri apakah sisi itu juga ada pada bokap gue.

Dengan meninggalnya bokap gue, ada satu mimpi gue yang nggak akan bisa terpenuhi lagi. Yaitu mimpi bahwa suatu hari nanti gue bisa tinggal serumah dengan dia, berbagi kegemaran kami bersama-sama tanpa harus khawatir akan terpisahkan oleh jarak.

Sekarang dia sudah tidak ada. Gue cuman punya kenangan saat gue di Surabaya, di tengah malam menjelang subuh, dia main komputer di ruang kerjanya sementara gue main PS di kamar adek gue. Tiba-tiba dia melongok ke kamar tempat gue berada sambil bilang “Tok, kita makan es krim sambil rokok-an yuk.”

Kalimat itu terus bergema di kepala gue sekarang, dan gue bersukur kepada Tuhan bahwa gue nggak pernah menolak ajakannya itu.

Tapi sekarang Papa sudah pergi. Nggak ada lagi orang yang mau ngajak gue merokok bareng sambil makan es krim di tengah malam.

Ajakannya itu sangat berarti buat gue, karena itu artinya dia mau menerima gue apa adanya, yaitu anaknya yang gendut, suka makan es krim dan suka merokok. Dia nggak pernah mencela gue karena hal-hal itu. Gue nggak pernah bisa menemukan orang seperti itu selain dia. Nggak akan pernah…

Selain itu gue juga bersukur kepada Tuhan bahwa bokap pergi setelah gue lulus. Meskipun gue belum wisuda, tapi paling nggak dia tahu kalau gue sudah lulus jadi dia bisa bangga dan lega.

Goodbye Dad… It’s been a pleasure being your son. I hope we’ll still be father and son in the next world.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: