Oleh: ditogendut | 28 Agustus 2008

My Power

Your Power Color Is Lime Green

At Your Highest:

You are adventurous, witty, and a visionary.

At Your Lowest:

You feel misunderstood, like you don’t fit in.

In Love:

You have a tough exterior but can be very dedicated.

How You’re Attractive:

Your self-awareness and confidence lights up a room.

Your Eternal Question:

“What else do I need in my life?”

What’s Your Power Color?

Setiap menjalani wawancara kerja, cuman satu pertanyaan yang bikin gue panas dingin yaitu, “apa kelebihan kamu?”

Kalau gue boleh jawab “Bapak nggak lihat? Kelebihan saya ya berat badan saya.” pasti hidup bakal jadi lebih indah, hehehe… Sayangnya kalau gue sampai berani menjawab seperti itu pasti langsung ditendang dari ruang wawancara.

Seriously though, gue bener-bener nggak tahu kelebihan gue sendiri. Bukan berarti gue bener-bener nggak punya bayangan tentang kelebihan diri gue sendiri, tapi gue cuman takut takabur kalau gue cukup PD untuk benar-benar menetapkan “Kelebihan gue adalah A, B, dan C.”

Gue takut begitu gue berkata seperti itu, ternyata malah menjadi senjata makan tuan. Contohnya gue bilang “saya cerdas”, tapi nggak tahunya begitu gue kerja malah gue sering melakukan kesalahan yang tergolong bodoh.

Atau lebih parah lagi, gue takut menjadi terobsesi dengan pernyataan gue sendiri karena kalimat yang penuh percaya diri itu bisa berubah menjadi “self suggestion” yang kalau diteruskan bisa-bisa malah jadi “self hypnosis” dan efeknya adalah gue akan berusaha menjadi sesuatu yang bukan sepenuhnya diri gue sendiri.

Contohnya gue bilang “saya supel”, berapa persen kemungkinan bahwa gue akan pontang-panting menunjukkan kepada para atasan bahwa gue memang supel? Berkenalan dengan semua orang, rajin tebar pesona dengan ekstra, aktif di semua kegiatan kantor, dan lain-lain, padahal gue nggak sesupel itu. Akhirnya malah capek sendiri karena termakan oleh idealisme terhadap diri sendiri.

Huah… kok jadi teknis banget ya entry hari ini? Hehehe…

Tapi beneran, gue paling bengong kalo sampe dikasi pertanyaan itu. Mau jawab “saya sabar”, ntar ternyata banyak orang ceroboh di sekeliling gue dan akhirnya gue ngamuk-ngamuk tiap hari. “Saya rajin” ternyata besoknya kena flu jadi nggak bisa kerja. Ribet kan?

Kadang kepikiran, mungkin gue mendingan jawab “Saya baik. Bukan yang terbaik, tapi baik.”

Gue pengen jawab seperti itu karena ‘baik’ adalah sesuatu yang cenderung subyektif, jadi gue bebas menentukan standar kebaikan gue sendiri. Dan karena ‘baik’ adalah sesuatu yang positif, jadi sejelek-jeleknya kebaikan gue nggak mungkin negatif kan? Hehehe… licik ya?

Hhh… tapi ini adalah sesuatu yang harus dipikirkan baik-baik, karena kalau nggak setiap wawancara pasti kelabakan sendiri. Hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: