Oleh: ditogendut | 6 September 2008

Belajar Hukum = Inferior?


Your Hidden Talent

Your natural talent is interpersonal relations and dealing with people.

You communicate well and are able to bring disparate groups together.

Your calming presence helps everything go more smoothly.

People crave your praise and complements.

Gue baru nyadar, kadang mengambil jalan kehidupan yang berbeda dari anggota keluarga yang lain banyak nggak enaknya.

Keluarga besar gue 75% anggotanya adalah dokter. Lainnya kalau bukan insinyur (jurusan tehnik), pasti ngambil ilmu ekonomi. Sementara yang mengambil jalan sebagai orang hukum di dalam keluarga gue baru berdua, yaitu om gue dan gue sendiri.

Om gue, meskipun sudah berumur, tapi juga baru tahun lalu lulus SH, lebih telat setahun dari gue. Sementara adik gue juga baru tahun kemarin masuk fakultas hukum.

Singkat kata, gue adalah orang pertama dari keluarga gue yang memang sudah niat dari awal mengambil ilmu hukum sebagai gelar akademik. Sementara om gue, sebelum ngambil ilmu hukum, dia sendiri sebelumnya sudah mengambil Sarjana Ekonomi, gue juga bingung kenapa dia ngambil ilmu hukum sebagai tambahan.

Adik gue sendiri juga ‘kejeblos’ masuk ke fakultas hukum karena gue ‘racun-racunin’. Hehehe… Kan lumanyan jadi punya temen buat ngobrolin ilmu. Kalau dulu… wew… setiap ada acara kumpul-kumpul keluarga, dunia rasanya sepi banget karena nggak ada yang bisa diajak ngobrol tentang ilmu gue. Sementara kalau gue harus berusaha ngikutin pembicaraan para dokter dan insinyur yang mana di telinga gue kedengeran seperti bahasa planet itu, bisa-bisa yang ada pingsan berbusa-busa. Bener-bener jadi outcast sejati… hiks…

Tapi sekarang lumayan, kalau ada acara keluarga, gue bisa ngobrol sama om gue dan adek gue, biarin aja keluarga yang lain pada bengong ngedengerin para ahli hukum ini saling membicarakan tentang betapa ribetnya dunia hukum ini. Mwahahaha… (ketawa jahat)

Selain itu, ini harus gue akui, image ilmu hukum emang jelek di hadapan ilmu-ilmu lainnya. Kesannya orang-orang yang belajar dan berkerja di bidang hukum pasti sudah siap masuk neraka, karena dengan memegang gelar SH (yang sering dipelesetin jadi Susah Hidup) saja sebelah kaki kita sudah ada di dalam neraka. Hiks… jahat banget ya orang-orang?

Apalagi kita yang memilih untuk jadi pengacara, pasti digodain melulu karena dianggap “membela yang bayar”, dan profesinya dipelesetkan menjadi “Pengangguran banyak acara”. Hiks lagi deh… Notaris juga digodain sebagai “Nongkrong tapi laris”. Aduh… Hina banget sih profesi hukum di hadapan ilmu lainnya.

Gue ngerti kalau kebanyakan orang yang berkata seperti itu memang hanya sekedar bercanda, tapi sorry to say, ada juga orang yang memang mengatakan hal itu hanya sekedar untuk menyakiti perasaan orang yang mendengar. Kalau ketemu orang seperti itu, gue cuman bisa geleng-geleng.

Belum lagi mereka yang menganggap ilmu hukum sebagai ilmu yang mudah. “Kan cuman ngapalin isi undang-undang” kata mereka. Halah halah… kalau memang segampang itu, ngapain kuliahnya harus 4 tahun? Kadang nggak mikir ya mereka yang ngomong gitu?

Di dunia ini ada lebih dari 170 negara, dan masing-masing punya hukumnya sendiri-sendiri. Nggak mungkin kan kita ngapalin undang-undang yang jumlahnya segambreng-gambreng itu? Yang ada juga kita berusaha mengerti sifat setiap bidang hukum, dan nanti meskipun tiap negara punya peraturan yang berbeda kita bisa belajar cepat karena kita sudah ngerti konsepnya. Kalau konsepnya sudah ngerti, nantinya gampang saja untuk mempelajari detil-detil teknisnya kan? Nah, buat ngerti konsep awalnya itu yang ribetnya setengah mati.

Tapi emang segalanya kalau nggak dijalani sendiri pasti nggak terasa ribetnya ya? Yah sudahlah, mau gimana lagi?

Mungkin memang lebih baik kalau gue lay low, mengambil peran sebagai ‘orang bodoh’ dalam keluarga. Gue udah biasa kok menjalani peran itu. Toh diremehkan terkadang juga ada untungnya. Hehehe…

Yang lucu, saking diremehkannya, kemarin salah satu tante gue ada yang ngasih tunjuk majalah Time ke gue. Gue belum sempet baca, tiba-tiba dia nanya ke gue, “Kamu bisa bahasa Inggris kan?” dengan nada prihatin.

Gue yakin Ibu Gajah, Landak, dan temen-temen gue yang lain pasti langsung bengong denger ada orang yang nanya pertanyaan itu ke gue. Kalau orang itu adalah orang lain, mungkin nggak apa-apa. Tapi ini tante gue sendiri? Gimana coba jadinya?

Haeh… itulah nggak enaknya jadi orang yang diremehkan. Tapi enaknya adalah, dia terus berusaha menterjemahkan artikel majalah itu ke gue, jadi gue nggak perlu susah-susah baca. Hahaha…

Yah sudahlah… nggak apa-apa juga. It just shows that my family is quite ignorant about me. Mungkin emang gue aja yang kurang “berkoar-koar” tentang apa saja kemampuan gue. Sekarang pertanyaan gue adalah, bagaimana memberi tahukan kemampuan gue kepada dunia tanpa harus terdengar menyombongkan diri? Hieh… lebih susah lagi deh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: