Oleh: ditogendut | 20 September 2008

Nepotisme


How You Life Your Life


You seem to be straight forward, but you keep a lot inside.

You’re laid back and chill, but sometimes you care too much about what others think.

You tend to have one best friend you hang with, as opposed to many acquaintances.

You tend to dream big, but you worry that your dreams aren’t attainable.

.
Gue inget waktu jamannya reformasi baru mulai, semua orang alergi dengan singkatan KKN yang artinya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Sebegitu alerginya, sampai-sampai istilah lainnya yang memiliki singkatan KKN, seperti Kuliah Kerja Nyata, dirubah menjadi Kerja Praktek (KP). Itu istilah yang sekarang sering dipakai oleh mahasiswa jurusan tehnik dan desain sekarang ini. Sedangkan KKN untuk anak kedokteran sepertinya dihilangkan sama sekali, karena gue nggak pernah denger ada dokter yang sedang KKN. Sebagai gantinya, biasanya disebut sebagai Pengabdian. Hahaha… aneh-aneh saja.
.
Kembali pada KKN yang negatif. Gue kadang mikir, sekarang kan sudah ada KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), tapi kok nggak ada KPN (Komisi Pemberantas Nepotisme) ya?
.
Well, tentang kolusi, itu sudah gue golongkan sebagai saudara kembar siam dari korupsi. Toh dua-duanya sudah pasti melibatkan uang kan? Atau paling nggak melibatkan keuntungan bagi orang-orang yang seharusnya tidak memperoleh keuntungan lebih dari pelaksanaan pekerjaan mereka (contoh: pegawai negeri).
.
Bagaimana dengan nepotisme? Yang gue ngerti, nepotisme maksudnya adalah mengangkat orang-orang seperti saudara-saudara kita sendiri, atau teman-teman kita ke kedudukan yang tinggi dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan kita. Bener kan?
.
Yang gue nggak ngerti adalah… kalau memang begitu, lalu bagaimana membuktikan bahwa nepotisme memang telah terjadi? Kalau ada seorang Bupati yang mengangkat anaknya sendiri yang kebetulan sudah menjadi pegawai negeri sipil untuk menjadi asisten hariannya, apakah itu termasuk sebagai nepotisme? Kalau memang ternyata pegawai negeri lainnya di kabupaten itu semuanya oneng kecuali si anak itu, apa salah kalau si bupati itu menunjuk si anak untuk jadi asistennya?
.
Bagaimana kalau kejadiannya seperti di Argentina? Presiden Kirchener mempunyai wakil presiden yang tidak lain adalah istrinya sendiri, itu bagaimana? Apa termasuk nepotisme juga? Itu kan istrinya, kurang nepotisme apalagi coba? Sekarang malah si istri itu menggantikan suaminya sebagai presiden karena dia memenangkan pemilu. Apakah itu salah?
.
Sedikit banyak gue harus mengakui kalau nepotisme adalah sesuatu yang praktis. Dalam bekerja, kita perlu orang yang bisa kita percayai. Dimana lagi kita bisa mencari orang seperti itu kalau bukan di antara keluarga atau teman-teman kita sendiri, ya tho?
.
Tapi memang ada kekurangannya sih. Sejauh ini gue bisa melihat ada 3 kekurangan dari nepotisme.
.
Pertama adalah, karena orang bawahan kita itu adalah anggota keluarga atau teman, ada kecenderungan buat kita untuk tidak tega menghukum mereka saat mereka melakukan kesalahan. Kalau istri jadi bos, trus suami jadi bawahan melakukan kesalahan saat berkerja, pasti si istri mikir-mikir beberapa kali untuk marah-marah sama si suami, kan nggak lucu kalau pangkal permasalahan ada di dalam pekerjaan, tapi efeknya bikin keluarga tercerai berai. Sebaliknya juga begitu, kalau si suami melaksanakan pekerjaan dengan baik, si istri juga nggak bisa seenaknya memuji atau memberi hadiah karena bisa mengundang rasa iri dari pekerja yang lain. Meskipun si suami memang benar-benar berjasa, tapi jasanya itu jadi tertutupi oleh kenyataan bahwa dia adalah ‘suami bos’.
.
Kekurangan yang kedua adalah nepotisme berpotensi menghalangi berkembangnya bakat-bakat baru. Kalau ada pegawai yang berbakat besar tapi bukan keluarga bos dan dia susah naik pangkat karena selalu dikalahkan oleh pekerja lain yang merupakan keluarga bos, tentu bakatnya tidak akan pernah berkembang kan?
.
Kekurangan yang ketiga tentu saja kekurangan yang paling dikeluhkan oleh para reformis, yaitu fakta bahwa nepotisme bisa dipakai untuk menutupi korupsi dan kolusi. Kalau gubernur, bupati, dan camat, semuanya besaudara, pasti gampang sekali menutupi permainan kotor seperti korupsi dan kolusi.
.
Haeh… susah juga ya ternyata? Mungkin memang benar apa dibilang oleh filsafat jawa, semuanya itu harus sa’madyo (sedang-sedang) saja. Kalau kita jadi bos, dan kita mengangkat seorang saudara kita dan seorang teman kita sebagai orang kepercayaan, gue rasa itu sah-sah saja, karena toh itu kan hak si bos. Tapi untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ya sisa kedudukan yang lain tetap diisi oleh orang lain yang memang cocok untuk duduk di posisi itu.
.
Lagipula, punya saudara atau teman dekat di tempat kerja kan ada keuntungan sampingannya. Kita jadi punya orang untuk menemani kita kalau kita harus lembur. Hahaha… Coba kalau orang lain, mana mau nemenin kita. Kalau sodara kan enak, dia berani nolak nemenin kita, gampang aja, tinggal coret aja dari surat wasiat kita. Mwahahaha… (tega mode – on)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: