Oleh: ditogendut | 3 November 2008

My Wedding

Suikoden II – Gothic Neclord – Kenji Yamamoto

Kemarin-kemarin Ibu Gajah dan Si Landak sudah membahas tentang bagaimana mereka ingin acara pemakaman mereka dilaksanakan. Gue sudah komentar-komentar di dalam blog mereka masing-masing, dan komentar gue udah cukup ‘panjang’, jadi gue males kalau harus nulis ulang apa yang sudah gue tulis di tempat mereka. Buat yang pengen baca-baca, silahakan ke BLOG IBU GAJAH YANG INI atau BLOG SI LANDAK YANG INI.

Oleh karena itu, sekarang gue ngomongin (bayangan gue tentang) perkawinan gue saja. Hehehe… Ibu Gajah sudah sempat membuat entry dalam blognya yang mengangkat tema mengenai her dream wedding. Di situ gue juga udah sempet komentar, cuman gue nggak ngomongin tentang my dream wedding.

Nah, sekaranglah gue akan membicarakan my wedding dream. Hahahaha…

Pertama-tama, seperti mayoritas cowok lainnya, gue lebih suka kalau acara perkawinan gue tuh yang simple-simple aja. Yah, cukup akad nikah, trus honeymoon, dan langsung kembali ke kehidupan normal. Gak usah pakai heboh-heboh, apalagi pesta-pesta. Ntar malah ribet, ya kan? Mendingan niru si landak aja, habis nikah (yang mana cuman ijab qobul doang), trus pasang pengumuman di koran dan blog bahwa gue udah menikah. Mungkin kirim SMS ke beberapa orang yang penting untuk memberitahukan berita itu.

Tapi… kalau gue melakukan itu, gue bakal dianiaya oleh banyak orang. Calon gue sendiri sih nggak keberatan mau nikah cara apa, yang penting sah agama dan pemerintah (that’s why I love her!). Yang pasti keluarga bakal mencak-mencak nggak karuan, dan paling mengerikan adalah menerima kemurkaan temen-temen gue sendiri. *melirik perlahan-lahan ke arah Ibu Gajah, Ibu Paus, Anjing Langit, Nyamuk, dan Cucut*

Oleh karena itulah, akhirnya gue iseng-iseng mulai membayangkan. Kalau kira-kira gue HARUS bikin acara pernikahan yang cukup besar sehingga harus mengundang orang-orang banyak, akan seperti apakah acara itu jadinya?

WELL…!

Pertama: konsepnya pasti Jawa, secara gue orang Jawa dan calon gue juga orang Jawa (nama bokapnya aja HARYONEGORO, kurang Jawa apalagi coba?) Meskipun, kalo boleh memilih baju yang lain sih, gue udah punya desain sendiri di kepala gue. Bayangin yang cowok pakai bajunya Dumbledore dan yang cewek pakai baju McGonnagall. Hahaha… Ketahuan banget nggak sih kalau gue adalah salah satu fans Harry Potter yang berharap bahwa ada ‘sesuatu’ di antara Dumbledore dengan McGonnagall.

Kedua: gue maunya tuh acara adalah sekedar ekstensi dari acara Akad Nikah. Maksudnya, antara Akad Nikah dan Resepsi tidak terpisah. Begitu kelar Ijab Qobul langsung nyambung sama acara salam-salaman dan makan-makan. Jadi cukup satu kostum aja, nggak usah ganti-ganti, RIBET!

Ketiga: Gue BERSUKUR gue bukan orang Jogja. Baru ngebayangin baju penganten yang nggak pakai atasan itu aja udah bikin gue masuk angin. Wew… Sebaliknya gue agak mikir juga sih, karena beskap dan kebaya penganten Jawa Timur biasanya dibuat dari BLUDRU dengan warna gelap yang dipasangkan dengan kain jarit. Hhh… judulnya panas deh tuh. Tapi nggak apa-apa lah. Request gue cuman satu, beskap dan kebaya-nya harus berwarna BIRU GELAP. Gue nggak mau merah (sakit mata), hijau (norak), ataupun hitam (bosen). Ungu okelah, tapi tetap harus yang gelap, jangan ungu stabilo! Tapi tetep mikirin bahan bludrunya itu aja udah nggak kebayang gerahnya. Apalagi masih dilapisin satin, wew… tambah tebel deh. Tanpa satin? GATEL!

Keempat: ini yang paling penting! LAGU PROSESI MASUK SEBELUM AKAD NIKAH! Lagunya sudah gue pasang di awal blog ini, jadi silahkan saja di play sambil membaca tulisan berikut ini. Silahkan menit dan detik yang gue tuliskan dicocokkan dengan lagunya.

00:00 – 00:30 = Intro. Memberi kesempatan pada para tamu untuk membuka jalan buat penganten. Sekalian ngasih waktu pager bagus & ayu untuk berdiri di pos masing-masing.

00:30 – 01.10 = Penghulu beserta saksi-saksi memasuki ruangan.

01:10 – 01:21 = Jeda. Memberi waktu pada penghulu dan saksi untuk segera berdiri di posisi masing-masing, kalau mereka belum sampai di meja, bagian ini memberi warning pada mereka bahwa mereka harus berjalan lebih cepat! (yaolo… galak banget)

01:21 – 01.55 = Pengantin cowok (berarti gue ya? Hiks…) memasuki ruangan. Hieh… waktunya cuman 34 detik! Jalannya nggak boleh pelan-pelan tuh.

01:55 – 02:17 = Jeda. Ngasih waktu buat gue untuk berdiri di posisi yang ditentukan, sekaligus warning kalau waktu gue buat jalan sudah hampir habis.

02:17 – 04:23 = Nah sekarang the main event! Masuknya mempelai wanita dengan digandeng oleh bokapnya. Hehehe… Karena kainnya perempuan biasanya lebih ketat, jadi jalannya pasti lebih susah. Makanya gue sediakan waktu yang paling panjang.

Semuanya belum boleh duduk sampai lagu selesai, dan karena yang memimpin upacara adalah penghulu, maka begitu lagu selesai dialah yang mempersilahkan semuanya untuk duduk di tempat masing-masing.

Langsung Ijab Qobul (untuk menghindarkan para tamu dari rasa bosan, nasehat perkawinan diberikan secara privat sebelum acara berlangsung). “Saya terima nikahnya bla… bla… bla…”

Trus sudah deh, langsung dilanjutkan dengan segala acara adat, resepsi, dan makan-makan. Semuanya kembali seperti acara kawinan biasa. Hehehe…

Soal lagu yang harus dinyanyikan selama resepsi, gue juga udah ada beberapa request, yaitu:

1. Save The Last Dance – dinyanyikan oleh Landak
2. It’s Hard To Say Goodbye – Dinyanyikan oleh Valen, duet dengan terserah siapa saja.
3. Claire Benediction – Dinyanyikan oleh semua anak PSUT yang hadir

Setelah 3 lagu itu, terserah deh, mau nyanyi apaan juga gue nggak complain. Mau Cucak Rowo kek, Macarena kek, SMS kek, Menghitung Hari kek, Kucing Garong kek, gue nggak keberatan. Toh ini kan pesta, semua orang yang merasa banci panggung silahkan memuaskan hasrat mereka masing-masing.

Karena temen-temen gue kebanyakan NARSIS, jadi sepertinya upaya melarikan diri dari mereka akan agak susah. Hmm… harus mempertimbangkan pemakaian kabut asap. Hehehe…

Well, nggak terlalu aneh kan? Gue cuman melakukan improvisasi di prosesi masuk-nya doang. Lebih dari itu, hampir nggak ada yang gue rubah.

Tapi dengan penyusunan seperti itu, mau nggak mau harus ada Gladi Resik ya? Biar penghulu dan saksi-saksi nggak keteteran pas di hari H-nya. Hihihihi…

Sekarang, yang gue pikirin cuman satu. Emangnya ada ya penghulu yang mau dikerjain seperti itu? Hieh… Harus berburu penghulu yang masih muda nih, biar masih mau diajak aneh-aneh. Kalo yang udah tua mah mana mau?

Yah, begitulah saudara-saudara sekalian pembahasan tentang my dream wedding. Hahaha… Lumayan lah buat ancer-ancer kalau memang sudah dekat waktunya. Sekarang mah gue mau santai-santai aja dulu. Siapa yang mau duluan, monggo… Hehehe…


Responses

  1. salam kenal tukeran link yukk

  2. Salam kenal juga. Hehehe…

    Okay, langsung aku bikin link-nya ya.

  3. ditooo, kamu Dito Untar ya?
    Dito aku esti, mohon bantuan u dongk, lagi mau cari kerja nih dikantor notaris, kira2 apa ada refrensi gitu, mungkin kamu dah banyak kenalan notaris.thx baget yah….sukses cepetan jd notaris ntar gw nyusul hehe

  4. o ya kl ada info blh hub aku disini yah 99144293, thx

  5. To Esti:
    Iya, gue Dito Untar. Hehehe… (kesannya nama gue Untar gitu ya?)
    Wah, gue sendiri belum punya banyak kenalan notaris. Lha gue sendiri aja susah banget buat dapet tempat magang. Hiks…
    Kalo mau sih masukin aja lamaran ke kantor-kantor notaris. Cuek aja, siapa tahu dapet.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: