Oleh: ditogendut | 25 November 2008

Marketing Melalui Telepon


Your Personality Profile


You are dependable, popular, and observant.
Deep and thoughtful, you are prone to moodiness.
In fact, your emotions tend to influence everything you do.


You are unique, creative, and expressive.
You don’t mind waving your freak flag every once and a while.
And lucky for you, most people find your weird ways charming!
.
Tadi pagi bangun, n setelah kelar mandi langsung nonton TV. Gue nonton berita tentang jam masuk sekolah yang dimajukan jadi jam setengah 7 setiap harinya.

Wew… untung gue bukan anak sekolah lagi. Gak kebayang harus udah ada di sekolah jam setengah 7. Bisa-bisa gue jadi zombie gara-gara ngantuk setiap hari. Hehehe…

Tapi bukan itu yang pengen gue bahas dalam entry hari ini. Yang pengen gue bahas, sesuai dengan judul, adalah marketing yang dilakukan melalui telepon.

Well, gue nggak bisa bilang bahwa gue sepenuhnya keberatan dengan cara marketing seperti itu sih, tapi harus diakui kalau sistem itu bisa dibilang mengganggu orang yang ditelepon (dalam hal ini, gue).

Kejadiannya tadi siang sekitar jam 3. Gue n temen-temen gue lagi kelimpungan karena ternyata ada kesalahan dalam akta yang baru ditandatangani pagi hari tadi. Ada satu ayat yang missing in action.

Dalam akta notaris, kalau ada kesalahan satu huruf saja, kesalahan itu harus diperbaiki di hadapan orang-orang yang minta dibuatkan akta, dan orang-orang itu harus memberikan paraf di bagian yang diperbaiki itu. Kebayang dong hebohnya waktu kita nyadar bahwa ada satu ayat yang menghilang? Udah gitu orang yang berkepentingan sudah pulang pula. Akan amat sangat tidak lucu kalau orang itu disuruh balik lagi untuk paraf bagian yang diperbaiki.

Jadilah kita heboh berusaha memperbaiki akta itu tanpa merubah susunan akta secara keseluruhan dan juga tanpa merusak kekuatan legal akta itu. Haduh, udah persis seperti main puzzle yang super ribet!

Pas kita berempat lagi kebakaran jenggot gitu, tiba-tiba HP gue bunyi. Nomor yang muncul di layar HP adalah nomor yang tidak dikenal. Setelah gue angkat, terdengarlah suara seorang mbak yang bertanya:

“Halo, dengan saudara Dito?”

“Iya.”

“Mas Dito, saya dari Fitness A, ingin memberi kabar gembira bahwa anda telah mendapatkan kartu anggota VIP di fitness kami.”

DHHHUUUUUAAAAARRRRRR!!!!

Gila… kepala gue udah senut-senut gara-gara akta yang ribet kaya teka-teki, eh sekarang malah ini mbak satu malah nawarin kaya begituan. Kalo bukan gara-gara takut dibilang gak sopan, mungkin udah langsung gue putus tuh telpon.

Akhirnya terpaksalah gue ladenin tuh mbak,

“Memangnya tempat fitness-nya dimana ya Mbak?”

“Kami cabang Fitness A di daerah Gading Mas.”

Gile aje… gue kerja di Sentul, rumah gue di Kebayoran, kalo sampe gue harus fitness di Gading, bisa garing krispy di jalan deh gue.

Setelah gue kasih tahu tempat kerja n tempat tinggal gue yang amat sangat jauh dari tempat fitness dia itu, sepertinya dia udah nggak napsu buat mendesak lebih jauh. Bagus lah.

Tapi dia belum mau menyudahi pembicaraan sampe gue merekomendasikan seseorang untuk ditawari membership di tempat fitness-nya.

Akhirnya dengan berat hati, dan dengan sangat TIDAK ikhlas, gue kasih dia nomor telepon Winy The Pooh. Hiks… maafkanlah ex-husband-mu ini wahai Winy. Tapi gue juga punya alasan sih merekomendasikan my loveliness ex-wife itu. Hehehe…

Alasan pertama, Winy The Pooh emang pernah ikut fitness. Siapa tahu aja dia emang punya niat untuk fitness lagi. Alasan kedua, kalaupun dia nggak mau ikut fitness lagi, gue yakin Winy The Pooh bisa lebih piawai untuk menolak tawaran si mbak itu. Wakakaka… (duh, gue beneran ex-husband yang tidak berbakti).

Hhh… gue maklum sih, si mbak itu memang hanya melakukan pekerjaannya, tapi aslinya gue punya 2 pertanyaan buat dia. Pertama, gue pengen tahu dari mana dia dapet nama n nomor telp gue. Bukan apa-apa sih, tapi penasaran aja gimana orang-orang telemarketing itu bisa dapet info-info nomor telepon calon customer.

Kedua, HARUS YA DIA TELPON DI JAM KERJA!!!!???

Menyebalkan… pas kita lagi kebakaran jenggot gitu malah ditelpon untuk membicarakan hal yang nggak penting. Menurut gue, mendingan para telemarketer itu harusnya dikasih jam kerja yang ada di luar jam kerja orang-orang lain. Kalo orang lain lagi kerja, mereka harusnya istirahat, jadi usaha mereka nggak ganggu kerjaan orang. Nah, pas orang lain lagi santai, mereka baru kerja dengan telpon-telpon kesana kemari. Kan enak tuh, orang lain nggak keganggu kerjaannya, sementara mereka juga jadi lebih kecil kemungkinan disembur sama orang yang ditelpon. Hehehe…

Tapi males juga sih ditelepon sama telemarketer pas lagi istirahat gitu…

Hmm… sepertinya memang lebih baik nggak usah ditelepon sama sekali aja kali ya? Hehehe…

Btw, ajaibnya, pas waktu lagi istirahat makan siang, gue n temen-temen ngobrolin tentang fitness-fitness dan juga para telemarketer-nya sambil makan siang. Eh, siangnya gue ditelepon sama telemarketer fitness. Panjang umur banget tuh telemarketer. Wakaka…

Tapi jadi kepikiran… semua temen-temen gue pasti mati ketawa kalo sampe gue ikut fitness kali ya? Huahaha… gue aja pengen ketawa, ngebayangin Burung Hantu Bengkak nan Oversize seperti gue main treadmill. Khikhikhi… udah persis seperti hamster kali ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: