Oleh: ditogendut | 22 Maret 2009

Going To A Party, Stag

photo-funia-3

Hieh… hari ini gue dateng ke pesta perkawinan adik kelas gue di SMA. Gue dateng bukan karena gue kenal sama dia, tapi karena kakak dia dulu sekelas dengan gue dan kakaknya itu dateng ke rumah gue buat nganterin undangan. Jadi nggak enak lah kalo gue sampe nggak dateng.

Lagipula dia juga bilangnya kalo dia ngundang banyak temen-temen seangkatan gue yang dia undang, jadi sekalian reuni lah judulnya.

Tapi apa daya, ternyata yang bisa dateng dari angkatan gue cuman gue doang. Temen se-geng gue pada nggak bisa dateng, karena yang satu baru operasi cesar anak ke-3 jadi dia belum bisa pergi, yang satu kerja sampe jam 4 di grogol padahal acaranya di kemayoran cuman sampe jam 5, yang satunya ada di Amrik, dan yang terakhir ikut ujian penerimaan CPNS Departemen Agama.

Sementara temen seangkatan gue yang lain pada nggak tahu tuh kemana semua. Grr…

Jadilah dari geng gue cuman gue sendiri yang dateng. Hiks…

Tapi nggak apa-apa juga sih. Gue orangnya juga nggak problem, mau dateng rame-rame nggak apa, mau dateng sendiri juga nggak apa-apa. Hehehe…

Yang bikin gue rada mikir adalah, di pesta itu gue nggak kenal siapa-siapa kecuali temen gue yang ngundang itu. Sementara dia, sebagai kakak pengantin, bertugas sebagai among tamu. Jadi nggak mungkin juga dia gue ajakin ngobrol.

Hieh…

Jadilah gue bener-bener Stag. Alias bener-bener sendirian. Dateng sendirian, sendirian selama pesta, dan pulang sendirian.

Satu-satunya kegiatan gue adalah membrutali makanan pesta. Hehehe… Lumayan…

Bahkan waktu foto bersama pun, gue ngedompleng aja sama adek-adek kelas gue (yang mana gue nggak kenal semua), dan langsung menggunakan jurus Ibu Gajah, yaitu Narsis Forever! Wakaka…

Dalam keadaan apapun, kalau di hadapan kamera harus tersenyum semanis-manisnya (meskipun hasilnya amit-amit).

Hmm… ini bener-bener pengalaman pertama buat gue, pergi ke pesta dalam keadaan Stag sepenuhnya. Selama pesta itu berlangsung, gue sama sekali nggak ngomong apapun, karena emang nggak punya pasangan buat ngomong. Gak lucu kan kalo gue ngomong sendiri. Apa kata dunia kalo burung hantu oversize seperti gue ngomong sendiri? Yang ada gue langsung dikirim ke penangkaran hewan langka kan repot jadinya.

Kalo lagi begini nih, baru kepikiran sisi negatif dari keadaan nggak punya pasangan, secara pasangan gue ada di ujung dunia yang berbeda dengan gue. Hiks… Jadi mellow…

Ahh… well… jalanin saja lah ya? Toh, paling nggak gue bisa puas makan makanan pesta (meskipun sempet keget juga menemukan gado-gado di sana). Hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: