Oleh: ditogendut | 7 November 2010

Heidelberg, 4 Februari 2010

Ini adalah entry lama (sesuai judulnya) tapi baru sekarang ingat buat diposting di sini.😀

 

“Selamat ya, akhirnya SK kamu sudah keluar.”

“Thanks.”

“Besok kamu ulang tahun kan? Aku ucapin selamat dari sekarang saja ya, aku kuatirnya besok aku tidak sempat telepon.”

“Terima kasih Na.”

“Kamu sepertinya lagi banyak pikiran ya?”

“Kamu tahu?”

“Dari tadi kamu cuma jawab omonganku seadanya. Kamu cuma seperti itu kalau sedang banyak pikiran.”

“Hmm…”

“Kamu sudah mulai capek lagi ya?”

“… Iya.”

“Mau sampai kapan?”

“Apanya?”

“Kamu seperti ini mau sampai kapan? Dari dulu kamu selalu berusaha melakukan apa yang orang minta dari kamu, padahal kamu sendiri tahu kalau kamu capek melakukan itu semua.”

“Sayangnya aku memang seperti ini.”

“Aku tahu mein leibe, aku tahu. Tapi kuatir kamu tidak akan kuat kalau seperti ini terus.”

“Aku juga tahu itu kok.”

“Sayangnya aku juga tidak bisa meminta kamu berhenti bersikap seperti ini.”

“Kenapa begitu?”

“Karena hubungan kita bisa bertahan sampai sekarang karena sifatmu yang seperti itu.”

“… Iya ya?”

“Iya mein liebe, makanya aku juga berusaha menjalani apa yang kita punya sekarang ini karena kamu yang seperti itu.”

“Terima kasih Na.”

“Tapi…”

“Kenapa Na?”

“Aku ingin kamu bisa santai kalau kepada aku. Terkadang aku ingin kamu bersikap egois terhadap aku.”

“Tok? Kamu denger aku kan?”

“Iya aku dengar.”

“Kamu ngerti maksud aku kan?”

“Aku ngerti. Tapi sebenarnya aku juga sudah bersikap egois terhadap kamu, baik kamu sadar atau tidak.”

“Aku sadar kok Tok.”

“Iyakah?”

“Kamu membicarakan tentang penundaan-penundaan selama ini kan?”

“Iya.”

“Aku sudah bersama kamu hampir 6 tahun Tok. Meskipun 4 tahun dari 6 tahun itu kita jalani dengan saling berjauhan, tapi aku ngerti garis besar apa yang kamu inginkan. Dan aku rela nunggu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau sampai puas.”

Mein liebe, kamu denger aku kan?”

“Iya, aku denger kok.”

“Kenapa kamu kedengaran ragu begitu?”

“Aku takut kalau aku tidak akan bisa puas.”

“Nggak apa-apa.”

“Bener?”

“Bener. Kamu sudah mau mengikuti keegoisanku selama ini. Aku rasa hanya akan adil kalau aku juga melakukan yang sama untuk kamu.”

“Terima kasih Na.”

“Nggak apa-apa mein liebe. Lagipula kita masih punya perjanjian kita kan?”

“Selalu. Perjanjian itu tidak akan pernah aku cabut.”

” Dengan perjanjian itu, paling tidak kamu bisa fair terhadap aku.”

“…”

“Selain itu, mein liebe, kita sudah punya kenangan akan malam itu kan?”

“…”

“Tok, kamu masih disana?”

“Iya, kita akan selalu punya kenangan tentang malam itu.”

“Ya sudah, kita sudahan dulu ya mein liebe. Besok aku kerja lagi, disini sudah hampir setengah 11.”

“Okay.”

“Inget, jangan terlalu maksain kalau kamu sudah capek.”

“Okay.”

Tschüss. Liebe dich.

*click*

“I love you too.”

………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: