Oleh: ditogendut | 7 Maret 2012

Akta Perjanjian Hidup Bersama


You Are a Revolutionary


You have many talents, and you are great at sharing those talents with others.
Most people would be jealous of your clever intellect, but you’re just too likeable to elicit jealousy.

Progressive and original, you’re usually thinking up cutting edge ideas.

Quick witted and fast thinking, you have difficulty finding new challenges.

Your strength: Your superhuman brainpower

Your weakness: Your susceptibility to boredom

Your power color: Tangerine

Your power symbol: Ace

Your power month: May

.
Kemarin ada seorang adik kelas dari MKn UI yang tiba-tiba menghubungi melalui twitter. Dia meminta gue untuk mengecek message dari dia yang dikirim lewat Facebook. Setelah berjuang panjang lebar – karena Facebook lagi error – akhirnya bisa juga gue baca message dia itu. Apa daya, pas waktu mau jawab, ternyata Facebook kumat errornya jadi failed terus setiap mau posting jawaban gue.
.
Hieh… Facebook lagi gak kompak nih. Oh well… jadilah sekarang cuman bisa menunggu pagi untuk mengirim jawaban lewat twitter.
.
Yang pengen gue bahas di sini adalah pertanyaan yang dia kasih melalui message dia itu. Dia bertanya tentang Akta Perjanjian Hidup Bersama.
.
Frase itu benar-benar menimbulkan rasa… aneh. Bukan apa-apa sih, tapi beberapa hari yang lalu pas lagi bengong tiba-tiba kepikiran untuk membuat entry di blog ini untuk membicarakan tentang akta itu, eh tiba-tiba ada yang ngajakin bicara tentang akta itu pula gara-gara dia pernah baca hal itu di blog gue ini (entry tanggal berapa tuh? Gue aja lupa. #tepok_jidat). Mungkin memang sudah ‘garis’-nya buat gue untuk membicarakan akta yang satu itu kali ya?
.
Well, tanpa menunda-nunda lagi, inilah sudut pandang gue mengenai Akta Perjanjian Hidup Bersama.
.
So… judulnya Perjanjian Hidup Bersama… kesannya provokatif banget ya judulnya? Hahaha…
.
Gue maklum kok kalau orang-orang nyambernya langsung menyamakan istilah ‘hidup bersama’ dengan istilah ‘kumpul kebo’ atau dengan istilah kunonya ‘samen leven’. Dari judul itu memang tidak bisa dihindarkan kalau hal yang muncul adalah hal-hal seperti itu. Gue akan coba bahas akta ini dari sudut pandang praktis, pragmatis, dan legal, dan bukan dari sudut pandang kesusilaan.
.
Secara historisnya memang tujuan awal dibentuknya Akta Perjanjian Hidup Bersama memang kurang lebih adalah untuk mengatur mengenai pengaturan harta antara pria dan wanita yang akan hidup bersama dalam keadaan quasi-rumah-tangga (dibilang rumah tangga ya bukan, tapi kalau dibilang bukan rumah tangga ya sebenernya memang sudah mirip rumah tangga). Coba kita pikirkan, kenapa kok akta seperti ini sampai perlu ada?
.
Mungkin untuk negara yang mayoritas Islam – dimana konsep perceraian dan poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan – seperti Indonesia, akta seperti ini tidak akan langsung terlihat perlunya. Tapi, coba pikirkan latar sejarah hukum di Indonesia. Indonesia, yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda, adalah jajahan Belanda, dan karenanya hukum yang berlaku di Indonesia sangatlah ‘bernuansa’ Eropa, terutama Eropa Kontinental. Agama yang mayoritas ada di Eropa Kontinental adalah agama Kristen Katolik Roma, dimana konsep perceraian adalah sesuatu yang hampir amat sangat sulit untuk terjadi. Kalaupun seseorang bisa bercerai dari pasangannya, dia perlu mendapatkan dispensasi dari Vatikan.
.
Jaman sekarang dimana sudah ada internet, telepon, fax, mungkin hal seperti mengurus proses permohon dispensasi itu bisa dilakukan dengan mudah (walaupun mendapatkannya tetap saja susah sih). Jangankan internet, telepon, atau fax; pos saja sudah cepat sekali di jaman sekarang ini.
.
Sekarang bayangkan, orang Eropa yang beragama Katolik di jaman tahun 1800-an yang tinggal dan berkerja di Indonesia, dan dia ingin bercerai dari pasangannya. Bayangkan berapa lama waktu yang dia perlukan untuk mengurus permohonan dispensasi itu? Setahun atau dua tahun saja sudah bisa dianggap cepat sekali. Itu pun kalau permohonan dispensasinya itu dikabulkan.
.
Bayangkan kalau selama proses permohonan dispensasi itu (atau kalau permohonannya ditolak) dan dia menemukan orang yang lebih cocok untuk dia jadikan sebagai pasangan hidup. Lalu dia harus bagaimana?
.
Bisa saja sih dia langsung melakukan kumpul kebo dengan pasangan barunya itu, tapi lalu bagaimana? Hidup kan tidak selalu bahagia dan bersenang-senang. Ada saatnya kesulitan dan kedukaan terjadi dalam hidup. Bagaimana kalau salah satu pihak dalam kumpul kebo itu mengalami pailit? Apakah harta pasangan kumpul kebonya bisa ikut terseret-seret dalam harta pailit? Bagaimana kalau salah satu dari pasangan itu ada yang meninggal dunia? Apakah pasangannya yang masih hidup bisa menjadi ahli waris pasangan yang meninggal?
.
Atau tidak perlu sampai keadaan yang sedrastis itu deh. Bagaimana kalau rumah tempat mereka tinggal mengalami kerusakan, siapa yang akan mengeluarkan biaya untuk memperbaikinya? Kalau salah satu ada yang sakit, apakah yang lainnya berkewajiban untuk membantu biaya berobat? Bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari, apakah ditanggung bersama-sama ataukah salah satu pihak akan menanggung biaya hidup sehari-hari sementara pihak yang lain akan menanggung biaya-biaya insidentil (memperbaiki rumah dan biaya berobat)?
.
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah Perjanjian Hidup Bersama diperlukan.
.
Seperti namanya, akta ini adalah sebuah perjanjian, yang kalau dalam hukum indonesia diatur dalam Buku Ke-3 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dan, seperti umumnya perjanjian-perjanjian yang diatur dalam Buku Ke-3 itu, hal-hal yang diatur dalam sebuah Perjanjian Hidup Bersama adalah semata-mata hal-hal yang berhubungan dengan harta benda, tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Inilah perbedaan mendasar antara Akta Perjanjian Hidup Bersama dengan sebuah Perkawinan, karena perkawinan bukanlah semata-mata sebuah perjanjian melainkan dianggap sebagai sebuah institusi tersendiri. Bahkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata saja, perkawinan diatur dalam buku tersendiri yaitu Buku Ke-1, bersama-sama dengan peraturan tentang orang, waris, dan keluarga. Terlebih lagi di Indonesia pada masa sekarang ini peraturan perundang-undangan mengenai perkawinan sudah dipisah dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
.
Lalu apakah peran Akta Perjanjian Hidup Bersama itu hanya terbatas untuk ‘kepentingan’ kumpul kebo saja?
.
Gue rasa jawabannya adalah: tidak.
.
Alasannya adalah pertanyaan berikut ini: Apakah orang yang hidup bersama sudah pasti dalam keadaan Kumpul Kebo?
.
Kalau beberapa orang kakak beradik yang memutuskan untuk hidup bersama dalam rumah warisan orang tuanya, apakah itu termasuk kumpul kebo? Nggak kan?
.
Apakah karena mereka bersaudara lalu mereka akan bebas sama sekali dari permasalahan harta dan pembiayaan? Nggak kan?
.
Selama mereka tinggal di bawah atap yang sama, mereka akan menghadapi permasalahan yang sama dengan permasalahan-permasalahan yang tadi gue angkat untuk pasangan kumpul kebo. Siapa yang akan mengeluarkan uang untuk kehidupan sehari-hari? Siapa yang akan mengeluarkan biaya untuk perbaikan dan pemeliharaan rumah tempat mereka tinggal itu? Kalau salah satu dari saudara bersaudara itu ada yang sakit, apakah yang lain berkewajiban untuk membantu biaya berobatnya?
.
Mungkin mengenai waris mewaris tidak perlu diatur dalam Akta Perjanjian Hidup Bersama (selama mereka memang saling bersaudara, mereka adalah ahli waris satu sama lain), tapi hal-hal kecil yang gue sebutkan di atas itu adalah hal-hal yang tidak bisa dihindarkan, dan memang merupakan sebuah konsekuensi dari beberapa orang yang hidup di dalam rumah yang sama.
.
Belum lagi pengaturan-pengaturan tambahan yang muncul kalau salah satu saudara itu ada yang menikah dan membentuk keluarganya sendiri di dalam rumah itu. Sudah pasti akan muncul komplikasi-komplikasi tambahan dalam pengaturan hidup bersama mereka. Apakah saudara dari orang yang sudah berkeluarga itu berkewajiban untuk membantu pembiayaan keluarga kecil yang baru terbentuk itu?
.
Pengaturan-pengaturan kecil yang sekilas tidak terpikir itu pada saatnya nanti akan berpotensi untuk menjadi permasalahan tersendiri di antara saudara bersaudara itu. Kalau pengaturan-pengaturan itu sudah ditetapkan sejak awal, maka komplikasi-komplikasi itu bisa dihadapi tanpa menimbulkan permasalahan yang lebih besar.
.
Perlu diingat, walaupun sudah ada pengaturan di dalam Akta Perjanjian Hidup Bersama, namun masih dimungkinkan untuk dilakukan penyimpangan-penyimpangan, selama semua pihak yang membuat perjanjian itu menyetujui penyimpangan tersebut. Contohnya, mengenai biaya berobat, kalau dalam perjanjian diatur kalau saudara-saudara yang tinggal serumah itu tidak wajib membantu pembiayaan pengobatan saudara yang sakit, namun pada prakteknya para saudara yang lainnya dengan suka rela membantu pembiayaan pengobatan itu, ya tidak akan dilarang, selama pihak-pihak yang mengeluarkan uang tidak merasa dirugikan dan pihak yang menerima juga tidak berkeberatan dengan bantuan itu.
.
Nah, sekarang coba gue bahas sesuatu yang lebih sensitif…
.
Hubungan antara Akta Perjanjian Hidup Bersama dengan pasangan sejenis.
.
Perlu menekankan kalau gue membahas ini dari sudut pandang gue sendiri, bukan dari sudut pandang notaris secara keseluruhan. Karena itu gue menyatakan bahwa gue tidak berkeberatan kalau pasangan sejenis (gay/lesbian) menggunakan Akta Perjanjian Hidup Bersama ini sebagai dasar bagi mereka untuk membentuk kehidupan pribadi mereka.
.
Selama perjanjian itu sepenuhnya dipergunakan untuk menetapkan pengaturan tentang harta pasangan-pasangan itu, gue sama sekali tidak punya keberatan bagi mereka mempergunakan Perjanjian Hidup Bersama.
.
Jujur, gue orang cukup liberal (meskipun kadang konservatif juga sih, hehehe…) untuk menyatakan bahwa apa yang seseorang lakukan di dalam kamar tidur mereka bukanlah urusan gue.
.
Kalau ada orang-orang yang datang ke gue dan meminta untuk gue buatkan Akta Perjanjian Hidup Bersama, sebagai seorang notaris, gue tidak bisa menolak. Selama akta itu hanya akan mengatur mengenai harta benda mereka, gue nggak punya alasan apapun untuk menolak membuatkan akta itu. Beda kalau mereka meminta gue membuat akta itu senada dengan sebuah pengaturan perkawinan, gue tidak bisa membuatkan karena hal itu jelas-jelas berlawanan dengan hukum.
.
Selama mereka datang ke gue semata-mata sebagai 2 orang laki-laki atau 2 orang perempuan yang berencana untuk berbagi rumah yang sama, dan karena itu mereka perlu menetapkan pengaturan-pengaturan tentang harta mereka selama mereka tinggal dalam satu rumah itu, jawaban gue secara sederhana adalah: Okay.
.
Hmm… pikiran romantis gue tiba-tiba muncul nih… Hahaha… Tiba-tiba kepikiran, kalaupun Akta Perjanjian Hidup Bersama itu semata-mata dan sepenuhnya dibuat untuk kepentingan pengaturan harta, dan bukan pengaturan lainnya, selembar dokumen itu akan dibubuhi tanda tangan kedua orang itu. Sedikit banyak, akta yang sekilas dibaca hanya mengatur tentang harta itu akan menjadi sesuatu yang spesial dan khusus di antara kedua orang itu. Hmmm… gue rasa ada romantisme yang terkandung dalam keadaan itu. Hahaha…
.
OMG, begini nih kalau subuh-subuh bikin entry blog, pikiran susah untuk dipaksa tetap serius dah. Wakakaka…

Responses

  1. Very comprehensive, yet still… Hopelessly romantic!😀

    • Haish… ternyata sang laler ngasih komentar tho? Wkwkwk… Maklum ye, gw kalo on line harus sambil menahan emosi jiwa dan raga, jadi hampir gak pernah ngecek blog. Sekalinya iseng ngecek, ternyata ada surpris dari elu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: